Kepemimpinan Yang Ideal Menurut Ki Hajar Dewantara

Nama                           : Nurmawati Restianingsih

No / NIM                    : 33 / 10410114

Jurusan / Fakultas        : PAI / Tarbiyah

Mata Kuliah                : Leadersip

KEPEMIMPINAN YANG IDEAL MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Tut Wuri Handayani. Apakah yang terlintas di benak kita ketika mendengar semboyan tersebut? Seringkali kita jumpai rangkaian kata itu identik dengan dunia pendidikan, utamanya ketika menginjak bangku sekolah dasar. Ketika itu, Tut Wuri Handayani diperkenalkan dalam pelajaran sejarah, sebagai nilai-nilai bangsa Indonesia yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” nyatanya begitu melekat di benak hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara filosofi tersebut dengan kepemimpinan yang ideal untuk bangsa Indonesia.

Ing ngarsa sung tuladha. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada para anggotanya. Seorang leader akan dilihat oleh followernya sebagai panutan. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang leader secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri leadernya, bagaimana cara leadernya dalam mengatasi masalah, sejauh mana leader berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang leader untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang leader memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk para followernya. Leader yang memiliki charisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan oleh charisma mereka yang dapat menginspirasi para followernya.

Ing madya mangun karsa. Filosofi ini berarti bahwa seorang leader harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah followernya sebagai pemberi semangat, motivasi, dan stimulus agar follower dapat mencapai kinerja yang lebih baik. Melalui filosofi ini, jelas bahwa seorang leader harus mampu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan followernya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, akan memotivasi follower untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Teori-teori motivasi memiliki peranan penting bagi seorang leader untuk mengaplikasikan peranan sesuai filosofi ke dua ini.

Tut wuri handayani. Filosofi yang terakhir ini memiliki makna bahwa seorang leader tidak hanya harus memberikan dorongan, namun juga memberikan arahan untuk kemajuan organisasi. Arahan di sini berarti leader harus mampu mengerahkan usaha-usaha followernya agar sejalan dengan visi, misi, dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai dasarnya, leader nilai-nilai organisasi harus tertanam kuat dalam diri masing-masing anggota.

Ketiga filosofi di atas saling berkaitan dan tidak dapat ditinggalkan salah satunya. Sebagai contoh, usaha seorang leader untuk menanamkan nilai-nilai organisasi kepada followernya. Dalam hal ini, seorang leader tidak bisa begitu saja mendorong dan mengarahkan perilaku followernya agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi (tut wuri handayani). Namun, leader tersebut juga harus mampu memberikan contoh nyata bagaimana nilai-nilai organisasi telah tertanam dalam dirinya (ing ngarsa sung tuladha). Sembari member contoh, leader juga harus mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut ke tengah-tengah followernya, dan memotivasi mereka untuk bertindak sejalan dengan nilai-nilai itu (ing madya mangun karsa).

Bila dilihat dari budaya bangsa menurut dimensi-dimensi Hofstede, akan ditemukan kesesuaian antara budaya kita, filosofi dari Ki Hajar Dewantara, dan gaya kepemimpinan yang diterapkan di Indonesia. Salah satu dimensi Hofstede, yaitu Power Distance Index (PDI) menunjukkan nilai yang tinggi pada budaya di Indonesia. Jarak kekuasaan yang tinggi mengindikasikan bahwa anggota-anggota dalam organisasi menerima adanya kekuasaan atau wewenang yang tidak didistribusikan secara merata. Nilai yang tinggi dalam dimensi ini berarti bahwa arahan dari leader merupakan sesuatu yang diinginkan dari para follower. Leader dituntut untuk bisa memberikan arahan dan pengawasan bagi para followernya. Hal ini kita jumpai pada salah satu filosofi di atas, yaitu tut wuri handayani.

Penerapan lain dari filosofi-filosofi tersebut dapat dilihat pada AXA Indonesia, suatu perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Perusahaan ini sukses meraih penghargaan sebagai “Perusahaan Ternyaman Pilihan Karyawan Nomor Satu di Indonesia” dalam ajang Employer of Choice di tahun 2010. AXA Indonesia unggul berkat komunikasi dua arah yang intensif dan terbuka. Komunikasi merupakan elemen penting bagi leader dalam memotivasi, memberikan semangat, dan ide untuk para follower. Hal ini sesuai dengan konsep filosofi “ing madya mangunkarsa”.

Beberapa uraian di atas menjelaskan kepemimpinan yang ideal bagi bangsa Indonesia, dilihat dari segi nilai-nilai asli budaya bangsa Indonesia. Belajar dari sejarah bangsa dapat membawa kita pada kesimpulan menarik mengenai berbagai hal. Salah satunya adalah dalam hal kepemimpinan. Sangat menarik mengetahui bahwa kepemimpinan yang ideal bagi bagsa ini bahkan telah ditemukan dan disusun sejak lama oleh Ki Hajar Dewantara melalui 3 filosofi singkatnya. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.

Kepemimpinan Yang Ideal Menurut Ki Hajar Dewantara

Nama                           : Nurmawati Restianingsih

No / NIM                    : 33 / 10410114

Jurusan / Fakultas        : PAI / Tarbiyah

Mata Kuliah                : Leadersip

KEPEMIMPINAN YANG IDEAL MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Tut Wuri Handayani. Apakah yang terlintas di benak kita ketika mendengar semboyan tersebut? Seringkali kita jumpai rangkaian kata itu identik dengan dunia pendidikan, utamanya ketika menginjak bangku sekolah dasar. Ketika itu, Tut Wuri Handayani diperkenalkan dalam pelajaran sejarah, sebagai nilai-nilai bangsa Indonesia yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” nyatanya begitu melekat di benak hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara filosofi tersebut dengan kepemimpinan yang ideal untuk bangsa Indonesia.

Ing ngarsa sung tuladha. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada para anggotanya. Seorang leader akan dilihat oleh followernya sebagai panutan. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang leader secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri leadernya, bagaimana cara leadernya dalam mengatasi masalah, sejauh mana leader berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang leader untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang leader memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk para followernya. Leader yang memiliki charisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan oleh charisma mereka yang dapat menginspirasi para followernya.

Ing madya mangun karsa. Filosofi ini berarti bahwa seorang leader harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah followernya sebagai pemberi semangat, motivasi, dan stimulus agar follower dapat mencapai kinerja yang lebih baik. Melalui filosofi ini, jelas bahwa seorang leader harus mampu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan followernya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, akan memotivasi follower untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Teori-teori motivasi memiliki peranan penting bagi seorang leader untuk mengaplikasikan peranan sesuai filosofi ke dua ini.

Tut wuri handayani. Filosofi yang terakhir ini memiliki makna bahwa seorang leader tidak hanya harus memberikan dorongan, namun juga memberikan arahan untuk kemajuan organisasi. Arahan di sini berarti leader harus mampu mengerahkan usaha-usaha followernya agar sejalan dengan visi, misi, dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai dasarnya, leader nilai-nilai organisasi harus tertanam kuat dalam diri masing-masing anggota.

Ketiga filosofi di atas saling berkaitan dan tidak dapat ditinggalkan salah satunya. Sebagai contoh, usaha seorang leader untuk menanamkan nilai-nilai organisasi kepada followernya. Dalam hal ini, seorang leader tidak bisa begitu saja mendorong dan mengarahkan perilaku followernya agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi (tut wuri handayani). Namun, leader tersebut juga harus mampu memberikan contoh nyata bagaimana nilai-nilai organisasi telah tertanam dalam dirinya (ing ngarsa sung tuladha). Sembari member contoh, leader juga harus mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut ke tengah-tengah followernya, dan memotivasi mereka untuk bertindak sejalan dengan nilai-nilai itu (ing madya mangun karsa).

Bila dilihat dari budaya bangsa menurut dimensi-dimensi Hofstede, akan ditemukan kesesuaian antara budaya kita, filosofi dari Ki Hajar Dewantara, dan gaya kepemimpinan yang diterapkan di Indonesia. Salah satu dimensi Hofstede, yaitu Power Distance Index (PDI) menunjukkan nilai yang tinggi pada budaya di Indonesia. Jarak kekuasaan yang tinggi mengindikasikan bahwa anggota-anggota dalam organisasi menerima adanya kekuasaan atau wewenang yang tidak didistribusikan secara merata. Nilai yang tinggi dalam dimensi ini berarti bahwa arahan dari leader merupakan sesuatu yang diinginkan dari para follower. Leader dituntut untuk bisa memberikan arahan dan pengawasan bagi para followernya. Hal ini kita jumpai pada salah satu filosofi di atas, yaitu tut wuri handayani.

Penerapan lain dari filosofi-filosofi tersebut dapat dilihat pada AXA Indonesia, suatu perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Perusahaan ini sukses meraih penghargaan sebagai “Perusahaan Ternyaman Pilihan Karyawan Nomor Satu di Indonesia” dalam ajang Employer of Choice di tahun 2010. AXA Indonesia unggul berkat komunikasi dua arah yang intensif dan terbuka. Komunikasi merupakan elemen penting bagi leader dalam memotivasi, memberikan semangat, dan ide untuk para follower. Hal ini sesuai dengan konsep filosofi “ing madya mangunkarsa”.

Beberapa uraian di atas menjelaskan kepemimpinan yang ideal bagi bangsa Indonesia, dilihat dari segi nilai-nilai asli budaya bangsa Indonesia. Belajar dari sejarah bangsa dapat membawa kita pada kesimpulan menarik mengenai berbagai hal. Salah satunya adalah dalam hal kepemimpinan. Sangat menarik mengetahui bahwa kepemimpinan yang ideal bagi bagsa ini bahkan telah ditemukan dan disusun sejak lama oleh Ki Hajar Dewantara melalui 3 filosofi singkatnya. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.

Radio Sebagai Media Pembelajaran

RADIO SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kata radio merupakan salah satu kata yang sudah tidak asing lagi buat kita semua. Perkembangan dunia radio sudah sedemikian pesat. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Jumlah yang selalu bertambah dan banyak, serta pemenuhan akan kebutuhan teknologi terkini selalu di ikuti media radio. Maka tidak mengherankan jika ada pakar komunikasi yang menyatakan bahwa radio merupakan media yang penuh dengan dinamika, dinamis dan selalu dapat mengikuti perkembangan jaman.

Radio menjadi salah satu alat komunikasi yang cukup dibilang murah. Karena murahnya, hampir tiap orang memiliki radio di rumahnya, entah dalam bentuk radio portable yang bisa dibawa kemana-mana, radio yang menjadi satu dengan tape recorder, radio yang ada di handphone, atau radio yang bisa didengar melalui internet.

Penggunaan media radio tidak terlepas dari prinsip komunikasi karena radio adalah sarana komunikasi dalam menyampaikan informasi atau pesan dari suatu sumber kepada pendengarnya.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengemasan pesan pendidikan melalui radio ?
  2. Apa keunggulan Radio ?
  3. Seperti apa penggunaan media radio ?
  4. Apa fungsi radio ?
  5. Apa kelebihan dan kekurangan radio ?

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Media Radio

Radio adalah alat elektronik yang digunakan sebagai media komunikasi dan informasi. Bentuk radio sangat beragam tapi secara sederhana bisa dibagi kedalam dua bagian besar. Pertama radio sebagai alat penerima informasi yang kedua radio sebagai pemberi informasi istilah yang baku untuk yang kedua ini adalah stasiun radio.

Radio sebagai alat penerima informasi biasanya terdiri dari alat pengatur pencarian gelombang (tunning), pengatur keras suara (volume), antena penerima, sound, output dan input.

Radio sebagai pemberi informasi atau stasiun radio adalah media tempat mengelola informasi yang menggunakan frekuensi sebagai media penyampaian informasinya.

 

B. Keunggulan radio

Bersifat langsung, yakni pendengar bisa langsung mendengarkan informasi yang disiarkan. Detik itu kita bicara detik itu juga pendengar bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan.

Cepat, radio punya sifat cepat karena dia menggunakan ranah publik yakni frekuensi sebagai alat antar informasinya tidak seperti media cetak yang menggunakan kertas.

Tanpa batas, radio punya karakter kekuatan seperti ini karena yang menjadi alat antar informasinya gelombang elektromagnetik yang bisa diakses atau didengarkan di mana saja dan kapan saja. Radio bisa didengarkan sambil menegerjakan pekerjaan yang lain radio pun karena menggunakan audio atau suara memudahkan orang-orang yang tidak dapat membaca untuk mendapatkan informasi.

Murah, radio media komunikasi yang murah dibandingkan dengan media komunikasi-informasi lainnya. Radio cukup dengan sekali membangun stasiun yang bermodal rendah bisa dipakai bertahun-tahun media yang lain butuh ongkos produksi yang besar setiap menyampaikan informasi.

 

C. Penggunaan Media Radio

Penggunaan media radio tidak terlepas dari prinsip komunikasi karena radio adalah sarana komunikasi dalam menyampaikan informasi atau pesan dari suatu sumber kepada pendengarnya.

Menurut Harold D. Lasswell komunikasi pada dasarnya menjelaskan “siapa?”, “mengatakan apa?”, “dengan saluran?”, “apa?”, “kepada siapa?” dan “dengan akibat atau hasil apa?”. Dengan demikian komunikasi merupakan suatu kegiatan atau proses pembentukan penyampaian, penerimaan dan pengolahan proses yang terjadi dalam diri seseorang dan/atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu.

Program radio tidak memberikan kesempatan kepada pendengar atau peserta belajar untuk memberikan respon secara langsung dan karena sifat media ini hanya satu arah maka pengemasan pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut harus komunikatif dan dapat menarik sehingga pendengar tidak bosan dalam mengikuti program yang disampaikan.

Schramn (1974) menyatakan agar tujuan komunikasi berhasil perlu dilihat dari dua sisi, yaitu sudut kepentingan sumber dan dari sudut kepentingan penerima. Dari sisi kepentingan sumber, yaitu (1) memberi informasi, (2) mendidik, (3) menghibur, dan (4) menganjurkan suatu tindakan. Sedangkan bila dilihat dari sudut penerima, yaitu (1) memahami informasi, (2) mempelajari, (3) menikmati, dan (4) menerima atau menolak anjuran (Sendjaja : 1993).

Bertitik tolak dari pendapat Schramn di atas maka dalam menentukan tujuan program pendidikan (pembelajaran) dilihat dari sudut kepentingan sumber, apakah program yang dikemas sudah berisi (1) informasi yang berguna bagi pendengar/pemirsa atau kelompok belajar, (2) mendidik pendengar/pemirsa dalam hal ini peserta kelompok belajar dengan baik, (3) apakah program ini memberikan hiburan bagi pendengarnya sehingga menarik dan tidak membosankan, dan (4) apakah program ini menganjurkan tindakan atau suatu kegiatan setelah mendengarkan siaran? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang perlu dijawab dalam mengemas program pendidikan/pembelajaran.

Theo Stokkink (1997) melihat bahwa fungsi media massa harus bekerja dengan baik sebagai dunia gagasan, sebagai media pendidikan, mendidik dengan menggunakan konsep dan fakta-fakta. Dari gambaran peristiwa secara dramatis, kepada pencarian pemikiran politik aktual, radio mampu menyajikan berbagai pokok pembicaraan yang dapat didiskusikan dengan membawa orang belajar pada suatu tempat yang telah ditentukan sebelumnya melalui himpunan pengetahuan yang diberikan.

Hal di atas akan dapat terlaksana sebagai contoh media radio bersifat imanjinatif dan bersifat pribadi dapat menyapa setiap pendengar secara individu. Pendengar membawa radio mereka di mobil, di rumah dan di tempat tidur. Bila dihubungkan dengan imajinasi radio memperlihatkan kekuatannya yang besar sebagai media. Radio menuntut partisipasi aktif pendengarnya dalam membangun suatu pengalaman tentang pandangan, daya penciuman, dan sensasi yang dihasilkan oleh media suara murni. Disebabkan suara yang buta maka pendengarnya mencoba untuk menvisualisasikan apa yang didengarnya dan mencoba menciptakan si pemilik suara dalam bayangan mereka sendiri. Karena radio memiliki fasilitas yang menakjubkan dalam menciptakan ilustrasi dalam pikiran pendengarnya. Hal ini dapat dilakukan apabila kata-kata yang digunakan dapat menggambarkan suatu suasana secara visual, penyebaran berita dan daya penggunaan kata-kata juga dapat menimbulkan suasana emosional.

 

D. Pesan

Fisher (1986 : 365) mengingatkan bahwa pesan dalam model mekanistis ditransformasikan pada titik-titik (saat-saat) penyandian dan pengalihan sandi sehingga pesan itu sendiri berupa pikiran atau ide berada pada suatu tempat dalam sistem jaringan syaraf (neorophysiological) dari sumber/penerima dan setelah penyandian terjadi dalam suatu situasi tatap muka, ditransformasikan ke dalam rangkaian getaran udara (gelombang suara) dan sinar-sinar cahaya yang terpantulkan. Alat pengalihan sandi pada sumber/penerima mentransformasikan fenomena energi fisik itu kembali ke dalam kata petunjuk paralinguistik, isyarat dan pikiran. Tetapi, dalam bentuk energi fisik antara sumber/penerima, maka pesan itu bukanlah merupakan pikiran, bukan pula berupa kata-kata. Akan tetapi ia merupakan seperangkat isyarat (signals) fisik.

Pesan adalah sesuatu yang dikirimkan dan atau diterima sewaktu tindakan komunikasi berlangsung. Pesan dapat dikirimkan baik melalui bahasa verbal maupun non verbal. Pesan juga merupakan suatu wujud informasi yang mempunyai makna. Maka apabila pesan tidak bisa dipahami oleh penerima maka pesan yang dikirimkan tersebut tidak menjadi informasi. Tetapi perlu disadari bahwa suatu pesan bisa mempunyai makna yang berbeda bagi satu individu ke individu lain, karena pesan berkaitan erat dengan masalah penafsiran bagi yang menerimanya.

Ruben (1992) hanya menyebutkan lima unsur yang mempengaruhi pesan, yaitu origin, mode, physical character, organization dan novelty. Pada dasarnya pesan pendidikan melalui radio dapat dikemas berdasarkan unsur-unsur tersebut. Khusus untuk program pendidikan yang bersifat pembelajaran (instructional) tidak semua unsur tersebut dapat digunakan, dan apabila akan memasukkan unsur-unsur tersebut, kemasannya harus indah untuk didengar dan tidakvulgar.

Selain unsur-unsur isi pesan, struktur dan teknik penyajiannya sangat menentukan keberhasilan pesan tersebut untuk diterima pendengar. Selanjutnya Sendjaja (1993) menyimpulkan bahwa bentuk dan teknik penyajian merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan upaya persuasi. Secara umum ada dua yang perlu diperhatikan, yaitu struktur pesan dan daya tarik pesan itu sendiri.

1. Struktur Pesan

Struktur pesan mengacu kepada bagaimana mengorganisasi elemen-elemen pokok dalam sebuah pesan, yaitu sisi pesan (message sidedness), urutan penyajian (order ofpresentation), dan penarikan kesimpulan (drawing a conclusion).

2. Daya Tarik Pesan

Daya tarik pesan berkaitan dengan teknik penampilan dalam penyusunan suatu pesan, ide yang meliputi fear (threat) appeals, emotional appeals, rational appeals danhumor appealsFear (threat) appeals bila dalam menyajikan suatu pesan yang ditonjolkan unsur-unsur ancaman bahaya sehingga menimbulkan rasa takut, dan bila penekanan pesan pada hal-hal yang bersifat emosional seperti keindahan, kesedihan, kesengsaraan, cinta dan kasih sayang. Rational appeals bila pesan tersebu menekankan pada hal-hal yang logis, rasional dan faktual. Humor appeals bila penyajian pesan dikemas dalam bentuk humor, bisa saja dalam bentuk kata, kalimat, gambar, simbol atau yang lainnya yang bisa menimbulkan kesan lucu.

 

E. Fungsi Siaran Radio

Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif. Pada dasarnya siaran radio dalam program belajar-mengajar berfungsi untuk (a) meningkatkan kemampuan komunikasi audio, (b) membuat suasana belajar menjadi lebih hidup, dan (c) meningkatkan kemampuan apresiasi dan imajinasi terhadap kejadian atau peristiwa yang sedang disiarkan.

F. Kelebihan dan Keterbatasan Radio:

Sebagaimana media pengajaran lainnya, media radio mempunyai kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan dari media radio adalah (a) program siaran dapat direkam dan isi pesan dapat dipergunakan berulang kali dengan konsisten, (b) daya jangkauannya luas sehinggadpat menjangkau daerah terpencil , (c) harganya terjangkau, (d) dapat dipindah-pindah, (e) program dapat diedit sesuai yang dikehendaki, (f) dapat menyajikan laporan-laporan seketika, (g) dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, (h) dapat memberikan suasana alam nyata dengan berbagai teknik dan efek suara , cocok untuk mengajarkan music, sejarah , drama dan bahasa, (i) dpat menyiarkan kejadian khusus, actual dan peristiwa historis. Namun, media radio juga memiliki keterbatasan antara lain : (a) penyesuaian jadwal siaran dan jadwal sekolah umumnya sulit, (b) sifat komunikasinya satu arah, (c) hanya menggunakan medium audio saja, (d) sulit dikontrol, artinya pendengar tak dapat menghentikan siaran sebentar untuk berdiskusi atau minta untuk mengulas bagian yang kurang jelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Media radio sebagai salah satu media komunikasi massa seyogiyanya menjalankan fungsi yang sesuai dengan tujuan komunikasi dari sudut kepentingan sumber, yaitu memberi informasi, mendidik, menghibur dan menganjurkan tindakan.

Agar tujuan komunikasi berhasil perlu dilihat dari dua sisi, yaitu sudut kepentingan sumber dan dari sudut kepentingan penerima. Dari sisi kepentingan sumber, yaitu memberi informasi, mendidik, menghibur, dan menganjurkan suatu tindakan. Sedangkan bila dilihat dari sudut penerima, yaitu memahami informasi, mempelajari, menikmati, dan menerima atau menolak anjuran.

Pesan merupakan suatu wujud informasi yang mempunyai makna. Maka apabila pesan tidak bisa dipahami oleh penerima maka pesan yang dikirimkan tersebut tidak menjadi informasi. Tetapi perlu disadari bahwa suatu pesan bisa mempunyai makna yang berbeda bagi satu individu ke individu lain, karena pesan berkaitan erat dengan masalah penafsiran bagi yang menerimanya.

 

B. Saran

  1. Karena radio merupakan media komunikasi satu arah maka pengemasan pesan-pesan yang akan disampaikan harus komunikatif dan menarik sehingga pendengar tidak bosan dalam mengikuti program yang disampaikan.
  2. Karena radio pendidikan bisanya tidak dipergunakn penuh dan langsung untuk tujuan pendidikan, seharusnya siaran khusus pendidikan diatur dengan jadwal dan kalau bisa disesuaikan dengan mata pelajaran dengan materi tertentu di sekolah secara bergantian agar siswa dapat mengakses informasi secara serempak di dalam kelas meskipun tempatnya berbeda.

 

C. Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuat program radio, apapun bentuk dan isinya adalah “Apakah prinsip-prinsip komunikasi seperti struktur pesan dan isi pesan sudah menjadi pertimbangan ?”

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hilmie, Farhan. 2007. Tanggungjawab Lembaga Penyiaranhttp://www.suaramerdeka.com, 25 September.

Stoklink, Theo (1997), Penyiar Radio Profesional,Yogyakarta : Kanisius.

Sadiman, Arif S dkk. 1986. Media Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Suarakomunitas, 2008 http://suarakomunitas.wordpress.com/2008/05/15/radio-sebagai-media-komunikasi/, 15 Mei.

Hardhono.A.P 2007, Potensi Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Mendukung Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia, 17 Mei.

 

Sumber Belajar

SUMBER BELAJAR

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Sumber belajar merupankan suatu media yang dipergunakan dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk mempermudah dalam proses pembelajaran serta mempermudah peserta didik dalam pencapaian tujuan pembelajaran atau dalam pencapaian kompetensi tertentu. Akan tetapi dalam menciptakan ataupun menggunakan sumberbelajar seorang guru haruslah memperhatian kemampuan setiap siswa, baik dari segi psikologis maupun fisik. Karena setiap siswa memiliki kekurangan dan kelebihan serta karakter yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain.

Selain itu, dalam pemilihan sumber belajar perlu juga memperhatikan apa tujuan dari proses pembelajaran dan aspek apa yang ingin dicapai. Sebab tidak ada satu pun sumber belajar yang cocok untuk semua jenis proses pembelajaran. Maka sebagai seorang guru perlu memilih jenis sumber belajar yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran agar tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran bisa tercapai.

  1. Rumusan Makalah
    1. Apa pengertian dari sumber belajar ?
    2. Apa fungsi dari sumber belajar ?
    3. Apa saja jenis-jenis sumber belajar ?
    4. Apa Kriteria dalam memilih sumber belajar ?
    5. Bagaimana memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar ?
    6. Bagaimana prosedur merancang sumber belajar ?
    7. Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar ?

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Sumber Belajar

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

 

  1. Fungsi Sumber Belajar
    1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
    2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
    3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
    4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
    5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
    6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa.

  1. Jenis-jenis Sumber Belajar

Secara garis besar terdapat dua jenis sumber belajar, yaitu:

  1. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
  2. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran

Dari kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya (2) orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya; (3) bahan: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya; (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera, papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya; (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan (6) lingkungan: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya.

  1. Kriteria Sumber Belajar

Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal; (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka; (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita; (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan; (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa.

 

  1. Cara Memanfaatkan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.

Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.

Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.

Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.

  1. Prosedur Merancang Sumber Belajar

Secara skematik, prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berikut:

 

 

  1. Cara Mengoptimalkan Sumber Belajar

Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.

Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-, masih dianggap relatif mahal. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masing-masing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien, dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

Sumber belajar berfungsi sebagai meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan, memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran, Lebih memantapkan pembelajaran, memungkinkan belajar secara seketika, memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas. Secara garis besar terdapat dua jenis sumber belajar, yaitu sumber belajar yang dimanfaatkan dan sumber belajar yang dirancan. Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria, yaitu ekonomis, praktis, mudah, fleksibel, sesuai dengan tujuan.

Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam. pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.

Sumber:

Adaptasi dari : Depdiknas. 2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar. Jakarta.

 

Reproduksi

 

  1. A.     Reproduksi

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manausia untuk mengahasilkanketuruna yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual. Untuk dapat mengetahui reproduksi pada manusia, maka harus mengetahui terlebih dahulu organ-organ  kelamin yang terlibat serta proses yang berlangsung di dalamnya.

  1. B.     Organ (Alat) Reproduksi Manusia
  2. Alat reproduksi pria, dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam. Organ reproduksi  luar terdiri dari :
    1. Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan betina untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis diselimuti oleh selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat dikhitan/sunat.
    2. Scrotum merupakan selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis serta mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa.

Organ reproduksi dalam terdiri dari :

  1. Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan sel-sel sperma serta hormon testosterone. Dalam testis banyak terdapat saluran halus yang disebut tubulus seminiferus.
  2. Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar dai testis. Berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan mematanagkan sperma.
  3. Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah ke atas dan berujung di kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula seminalis.
  4. Saluran ejakulasi merupakan saluran yang pendek dana menghubungkan vesikula seminalis dengan urethra.
  5. Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan terdapat di penis.

Kelenjar pada organ reproduksi pria

  1. Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma sehingga disebut dengan kantung semen, berjumlah sepasang. Menghasilkan getah berwarna kekukingan yang kaya akan nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali.Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran reproduksi wanita.  
  2. Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan menghasilkan getah putih yang  bersifat asam.
  3. Kelenjar Cowper’s/Cowpery/Bulbourethra merupakana kelenjar yang menghasilkan getah berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran urethra.
  4. Wanita, dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.

Organ reproduksi luar terdiri dari:

  1. Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterusdengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan?keluarnya bayi. Sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.
  2. Vulva merupakan suatu celah yang terdapat dibagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :

1)      Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak dibagian luas dan membatasi vulva.

2)      Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak d bagian dalam dan membatasi vulva

Organ reproduksi dalam terdiri dari:

  1. Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormon wanita seperti:

1)      Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum.

2)      Progesteron yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.

  1. Fimbriae merupakan serabut atau silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduk. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikelurkan oleh ovarium.
  2. Infundibulum merupakan bagian ujung oviduk yang berbentuk corong / membesar  dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
  3. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan abantuan silia pada dindingnya.
  4. Oviduk merupakan saluran panjang kelanjutandari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
  5. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti buah pir dengan bagian bawah  yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :

1)      Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.

2)      Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.

3)      Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang.

  1. Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
  2. Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari servik dan sampai pada vagina.
  3. Klitoris merupakan tonjolan kecil yang terletak di depan vulva. Sering disebut dengan kelentit.
  4. C.     GAMETOGENESIS

Merupakan peristiwa pembentukan sel gamet, baik gamet jantan/sel spermatozoa (spermatogenesis) dan juga gamet betina/sel ovum.

  1. Spermatogenesis merupakan proses pembentukan sel spermatozoa. Dibentuk di dalam tubula seminiferus. Dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu:
    1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung. Serta merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP  (Androgen Dinding Protein) untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis. 
    2. Hormon LH yang berfungsi merangsang sel Leydig untuk memperoleh sekresi testosteron (yaitu suatu hormon seks yang penting untuk perkembangan sperma).  Berlangsung selama 74 hari sampai terbentuknya sperma yang fungsional. Sperma ini dapat dihasilkan sepanjang usia. Sehingga tidak ada batasan waktu, kecuali bila terjadi suatu kelainan yang menghambat penghasilan sperma pada pria.
    3. Oogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan sel ovum. Proses  oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu:
      1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum.
      2. Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormon LH.
      3. Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum).
      4. Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH.

Selama 28 hari sekali sel ovum dikeluarkan oleh ovarium. Sel telur ini telah matang (mengalami peristiwa ovulasi). Selama hidupnya seorang wanita hanya dapat menghasilkan 400 buah sel ovum setelah masa menopause yaitu berhentinya seorang wanita untuk menghasilkan sel ovum yang matang  Karena sudah tidak dihasilkannya hormon, sehingga berhentinya siklus  menstruasi sekitra usia 45-50 tahun.

                                                    2                                              KETERANGAN :

                                                                            3                      1. Protein

1                                                                                                  2. Kepala

                                                                            4                      3. Badan         

                                                                                                    4. Ekor                                                Gambar 8.1 struktur sel sperma                        

 

                                                                   1                   KETERANGAN :

                                                                   2                   1. Inti sel

                                                                                        2. Corona pelucida

                                                      3                                3. Corona  radiata

 

Gambar 8.2  struktur sel ovum

Setelah ovulasi maka sel ovum akan mengalami 2 kemungkinan yaitu :

  1. Tidak terjadi fertilisasi maka sel ovum akan mengalami  menstruasi yaitu luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Terjadi secara periodic/sikus. Mempunyai kisaran waktu tiap siklus sekitar 28-35 hari setiap bulannya.  Siklus menstruasi terdiri dari 4  fase yaitu:

1)      Fase Menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Dapat diakibatkan juga karena berhentinya sekresi hormon estrogen dan progresteron sehingga kandungan hormon dalam darah menjadi tidaka ada.

2)      Fase Proliferasi/fase Folikuler ditandai dengan menurunnya hormon progesteron sehingga memacu kelenjar hipofisis untuk mensekresikan FSH dan merangsang folikel dalam ovarium, serta dapat membuat hormon estrogen diproduksi kembali. Sel folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak dan menghasilkan hormon estrogern yang merangsangnya keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen dapat menghambat sekersei FSH tetapi dapat memperbaiki dinding endometrium yang robek.

3)      Fase Ovulasi/fase Luteal ditandai dengan sekresi LH yang memacu matangnya sel ovum pada hari ke-14 sesudah mentruasi 1. Sel ovum yang matang akan meninggalkan folikel dan folikel akan mengkerut dan berubah menjadi corpus luteum. Corpus luteum berfungsi untuk menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi untuk mempertebal dinding endometrium yang kaya akan pembuluh darah.

4)      Fase pasca ovulasi/fase Sekresi ditandai dengan Corpus luteum yang mengecil dan menghilang dan berubah menjadi Corpus albicans yang berfungsi untuk menghambat sekresi hormon estrogen dan progesteron sehingga hipofisis aktif mensekresikan FSH dan LH.  Dengan terhentinya sekresi progesteron maka penebalan dinding endometrium akan terhenti sehingga menyebabkan endometrium mengering dan robek. Terjadilah fase pendarahan/menstruasi.

  1. Terjadi fertilisasi yaitu peleburan antara sel sperma dengan sel ovum yang telah matang dan menghasilkan zygot. Zygot akan menempel/implantasi pada dinding uterus dan tumbuh berkembang menjadi embrio dan janin. Keadaan demikian disebut dengan masa kehamilan/gestasi/nidasi. Janin akan keluar dari uterus setelah berusia 40 minggu/288 hari/9 bulan 10 hari. Peristiwa ini disebut dengan kelahiran. Tahapan waktu dalam fertilisasi :

1)      Beberapa jam setelah fertilisasi zygot akan membelah secara mitosis menjadi 2 sel, 4, 8, 16 sel.

2)      Pada hari ke-3 atau ke-4 terbentuk kelompok sel yang disebut morula. Morula akan berkembang menjadi blastula. Rongga balstosoel berisi cairan dari tuba fallopi dan membentuk blastosit. Lapisan dalam balstosit membentuk inner cell mass.  Blastosit dilapisi oleh throhpoblast (lapisan terluar blastosit)  yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni/plasenta/ari-ari. Blastosit akan bergerak menuju uterus dengan waktu 3-4 hari.

3)      Pada hari ke-6 setelah fertilisasi throphoblast akan menempel pada dinding uterus/proses implantasi dan akan mengeluarkan hormon HCG (Hormone Chorionik gonadotrophin). Hormon ini melindungi kehamilan dengan menstimulasi produksi hormon progesteron dan estrogen  sehingga mencegah menstruasi. 

4)      Pada hari ke-12 setelah fertilisasi embrio telah kuat menempel pada dinding uterus.

5)      Dilanjutkan dengan fase gastrula, yaitu hari ke-21 plasenta akan terus berkembang dari throphoblast. Mulai terbentuk 3 lapisan dinding embrio. Lapisan dinding embrio inilah yang akan berdiferensisai menjadi organ-organ tubuh. Organ tubuh akan berkembang semakin sempurna seiring bertambahnya usia kandungan.

  1. D.    Hormon Kehamilan

Hormon yang berperanan dalam kehamilan adalah sebagai berikut.

  1. Progesteron dan estrogen, merupakan hormon yang berperanan dalam masa kehamilan 3-4 bulan pertama masa kehamilan. Setelah  itu fungsinya diambil alih oleh plasenta. Hormon estrogen makin banyak dihasilkan seiring dengan bertambahnya usia kandungan karena fungsinya yang merangsang kontraksi uterus. Sedangkan hormon progesteron semakin sedikit karena fungsinya yang menghambat kontraksi uterus.
  2. Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh plasenta dan berfungsi untuk memacu glandula mamae untuk memproduksi air susu. Serta untuk mengatur metabolisme tubuh ibu agar janin (fetus)  tetap mendapatkan nutrisi.
  3. HCG (Hormone chorionic gonadotrophin) merupakan hormon untuk mendeteksi adanya kehamilan. Bekerja padahari ke-8 hingga minggu ke-8 pada masa kehamilan. Hormon ini ditemukan pada urine wania pada uji kehamilan.
  4. Hormon oksitosin merupakan hormon yang berperan dalam kontraksi uterus menjelang persalianan.  
  1. E.     Hormon Persalinan

Hormon yang berperanan dalam kelahiran/persalinan

  1. Relaksin merupakan hormon yang mempengaruhi peregangan otot simfisis pubis.
  2. Estrogen merupakan hormon. yang mempengaruhi hormon progesterone yang menghambat kontraksi uterus.
  3. Oksitosin merupakan hormon yang mempengaruhi kontraksi dinding uterus.
  4. G.    Reproduksi dalam Islam

F.     Prinsip Kontrasepsi dalam Reproduksi

Bertujuan untuk mencegah bertemunya sel sperma dengan sel ovum,  sehingga tidak terjadi fertilisasi.  Macam cara dalam kontrasepsi adalah sebagai berikut.

  1. Sistem kalender yaitu dengan memperhatikan masa subur wanita.
  2. Secara hormonal yaitu menghambat/menghentikan proses ovulasi.
  3. Kimiawi yaitu dengan menggunakan zat-zat kimia. Seperti spermatosida untuk pria, vaginal douche untuk wanita.
  4. Mekanik yaitu dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi.
  5. Sterilisasi yaitu dengan membuat setrilorgan-organ reproduksi bagian dalam. Seperti vasektomi untuk pria dan tubektomi untuk wanita.

Pada waktu sekarang terdapat terjemahan-terjemahan dan tafsiran tentang beberapa ayat yang memberi gambaran salah tentang wahyu Quran mengenai hal-hal ilmiah. kebanyakan terjemahan Quran menyebutkan pembentukan manusia mulai dengan “segumpal darah” dan adherence (rangkaian). Penjelasan semacam itu sangat tak dapat diterima oleh seorang spesialis. Manusia bukan begitu asal mulanya. Dalam ayat-ayat yang membicarakan menetapnya telur dalam uterus (rahim) wanita, kita akan melihat kesalahan ahli-ahli keislaman yang tidak mengetahui soal-soal ilmiah.

Keadaan semacam itu meyakinkan kita akan pentingnya perpaduan antara pengetahuan bahasa dan pengetahuan ilmiah agar dapat mengerti makna ayat Quran yang membicarakan reproduksi.

Quran menandaskan transformasi terus-menerus yang dialami oleh embrio dalam uterus (rahim) si ibu. Q.S.82 ayat 6-7: “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah membentuk kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.”  Q.S.71 ayat 13-14: “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah ? Padahal Dia sesungguhnya telah membentuk kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”

Di samping pernyataan yang sangat umum, teks Quran menarik perhatian kita mengenai soal-soal teks reproduksi, yang dapat kita kelompokkan sebagai berikut.

  1. Setitik cairan yang menyebabkan terjadinya pembuahan (fecondation)
  2. Kompleksitas cairan pembuah
  3. Penanaman (nidasi) telur yang dibuahi dalam rahim
  4. Perkembangan (evolusi) embrio

Setitik cairan yang dibutuhkan untuk pembuahan (fecondation)  dalam Q.S.16 ayat 4: “Dia telah membentuk manusia dari nuthfah (sejumlah kecil bagian sesuatu).” Kata (bahasa Arab) “nuthfah” ditemukan sebelas kali dalam Quran. Kata nuthfah diterjemahkan di sini sebagai “sejumlah amat kecil” bahagian dari total volume suatu zat. Barangkali hal ini bukanlah penerjemahan yang paling ideal. Tetapi tampaknya tak ada satu kata dalam bahasa Indonesia pun yang bisa sepenuhnya menangkap makna penuhnya dari kata tersebut. Kata tersebut berasal dari kata kerja bahasa Arab yang berarti “jatuh bertitik atau menetes”, yang berasal dari akar kata yang berarti: mengalir. Arti utamanya merujuk kepada jejak cairan yang tertinggal di dasar suatu ember setelah ember tersebut dikosongkan. Jadi kata itu menunjukkan setetes kecil, dan di sini berarti setitik cairan sperma, karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setitik itu adalah setitik sperma. Kata bahasa Arab ‘Maniy’ berarti sperma. Contoh nutfah.

Q.S.75 ayat 37: “Bukankah manusia dahulu merupakan nuthfah (sejumlah kecil bagian) dari maniy (sperma) yang ditumpahkan.” Dengan kata lain penunjukan nuthfah berarti hanya sebahagian kecil (setitik) saja dari total volume cairan mani (sperma) tersebut yang dibutuhkan dalam proses pembentukan manusia. Jadi Quran telah menyampaikan gagasan bahwa kemampuan sperma untuk membuahi tidak bergantung pada besarnya volume cairan yang disemburkan. Dan gagasan tersebut terbukti benar dengan ditemukannya kemaujudan spermatozoa di awal abad ke-17, yang mana identitas unsur pembuah ini diukur hanya dalam satuan-satuan perseribu milimeter.

Proses reproduksi manusia berlangsung dalam suatu rangkaian yang dimulai dengan pembuahan di dalam tabung Falopia (pembuluh lembut yang menghubungkan rahim dengan daerah indung telur). Suatu sel telur yang telah memisahkan dirinya dari indungnya di tengah perjalanan (melalui siklus menstrual), dibuahi oleh suatu sel yang berasal dari pria, yaitu spermatozoa. Dari berpuluh-puluh juta spermatozoa yang terkandung dalam satu sentimeter kubik sperma, hanya dibutuhkan satu spermatozoa saja untuk menjamin terjadinya pembuahan. Dengan kata lain proses ini sesuai dengan gagasan Quran bahwa hanya sejumlah sangat kecil dari cairan sperma yang berperan dalam proses pembuahan.

Suatu ayat lain menunjukkan bahwa setitik sperma itu ditaruh di tempat yang tetap (Qarar) yang berarti alat kelamin. Q.S.23 ayat 13: “Kemudian Kami jadikan nutfah (setitik sperma) itu (disimpan) dalam ‘makin’ (tempat yang kokoh/ rahim).” Perlu ditambahkan di sini bahwa kata sifat “makin” tak dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut menunjukkan tempat yang terhormat, tinggi, dan kokoh. Bagaimanapun maksudnya adalah tempat membesarnya manusia dalam organisme ibu.

Spermatozoa mengandung pita DNA, hal ini pada gilirannya membentuk kendaraan bagi gen-gen dari sang ayah untuk bersatu dengan gen-gen dari sang ibu untuk membentuk warisan genetik bagi calon manusia. Gen-gen yang terkandung di dalam sel reproduksi pria, akan bergabung dengan gen-gen sel reproduksi wanita, membentuk faktor-faktor yang akan menentukan berbagai kekhasan calon manusia itu.

Saat penyusutan kromatik berlangsung, spermatozoa itu membawa gen-gen yang mengandung faktor-faktor yang menentukan apakah calon manusia itu akan berjenis kelamin laki-laki (hemicromosom Y), atau wanita (hemicromosom X). Jika satu spermatozoa yang benar-benar berhasil membuahinya, mengandung hemicromosom Y, maka calon anak tersebut akan menjadi anak laki-laki. Jika spermatozoa yang menembus sel telur mengandung hemicromosom X, maka calon anak tersebut akan menjadi anak perempuan.

Oleh karena itu jenis kelamin seseorang, secara genetik, ditentukan pada saat terjadi pembuahan. Alqur’an mengandung pernyataan mengenai masalah tersebut sebagaimana berikut. Q.S.80 ayat 19: “Dari nutfah (setitik bagian), (Tuhan) khalaqa (membentuknya dalam proporsi yang tepat), lalu faqoddaroh (menentukannya).” Kata “khalaqa” yang biasanya diterjemahkan dengan kata kerja “menciptakan”, lebih tepat kalau diterjemahkan (sesuai arti aslinya) yaitu “membentuk dengan proporsi yang sesuai.” Kita tentu mesti mengakui bahwa dalam hal ini ditemukan kesesuaian yang mencengangkan antara pernyataan-pernyataan dalam Quran dengan fakta-fakta ilmiah di atas, juga fakta bahwa warisan genetik yang diterima dari ayahlah yang menentukan jenis kelamin seseorang.

  1. a.      Kompleksitas cairan pembuah

Q.S.76 ayat 2:  “Sungguh Kami telah membentuk manusia dari nuthfah (setitik sperma) amsyaj (cairan yang bercampur).” Istilah ‘cairan-cairan yang bercampur’ berkaitan dengan kata Arab “Amsyaj”. ‘Cairan-cairan yang bercampur’ yang dirujuk oleh Alqur’an hanya khas bagi cairan sperma yang kompleks. Seperti kita ketahui, cairan ini terdiri atas keluaran-keluaran getah dari kelenjar-kelenjar berikut ini.

1. Testis (buah pelir), pengeluaran kelenjar kelamin lelaki yang mengandung spermatozoa yakni sel panjang yang berekor dan berenang dalam cairan    serolite. Kantong-kantong benih (besicules seminates); organ ini merupakan tempat menyimpan spermatozoa, tempatnya dekat prostrat; organ ini juga mengeluarkan cairan tetapi sifatnya tidak membuahi. Prostrat, mengeluarkan cairan yang memberi sifat krem serta bau khusus kepada sperma.

2. Kelenjar-kelenjar yang melekat pada saluran kencing. Kelenjar Cooper atau Mery mengeluarkan cairan yang melekat, dan kelenjar Lettre mengeluarkan semacam lendir.

Itulah unsur-unsur campuran yang disebut dalam Alqur’an. Cairan benih dan spermatozoa diproduksi oleh buah pelir dan untuk waktu tertentu disimpan di dalam suatu sistem saluran dan tandon. Ketika terjadi kontak seksual, spermatozoa itu berpindah dari tempat penyimpanannya ke saluran kencing, dan di tengah jalan, cairan tersebut diperkaya dengan keluaran-keluaran getah lebih lanjut. Keluaran-keluaran getah ini yang meskipun tidak mengandung unsur-unsur pembuah, akan memberikan suatu pengaruh besar atas pembuahan tersebut dengan membantu sperma untuk sampai ke tempat sel telur wanita yang akan dibuahi. Dengan demikian, cairan sperma itu merupakan suatu campuran: ia mengandung cairan benih dan berbagaikeluaran getah tambahan.

Alqur’an masih menyebut hal-hal lain. Ia juga menjelaskan kepada kita bahwa unsur pembuah pria berasal dari cairan sperma yang bersifat hina. Q.S.32 ayat 8:  “(Tuhan) menjadikan keturunannya (manusia) dari sulalat (saripati) maa’ (cairan) yang mahin (hina)”Kata sifat ‘yang hina’ (mahin di dalam bahasa Arab) mesti diterapkan tidak saja pada sifat cairan itu sendiri melainkan juga pada fakta bahwa ia disemprotkan melalui saluran kencing.

Mengenai kata ‘saripati’ atau suatu komponen bagian dari komponen yang lain, kita sekali lagi bertemu dengan kata Arab “sulalat”, yang pernah dibahas dalam tulisan saya terdahulu “Teori Evolusi dalam Quran”. Hal ini menunjuk pada ‘sesuatu bahan yang diambil dari bahan lain’, dan merupakan ‘bagian terbaik dari bahan itu. Bagaimanapun cara menterjemahkannya, maksudnya adalah satu bagian daripada suatu keseluruhan bahan tersebut. Konsep yang diungkapkan disini, tidak bisa tidak, membuat kita berpikir tentang spermatozoa.

Yang menyebabkan pembuahan telor atau memungkinkan reproduksi adalah sebuah sel panjang yang besarnya 1/10.000 (sepersepuluh ribu) milimeter. Satu daripada beberapa juta sel yang dikeluarkan oleh manusia dalam keadaan normal dapat masuk dalam telor wanita (ovule). Sebagian besar sisa lainnya tetap dijalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke telor (ovule) di dalam rongga rahim (uterus dan trompe). Dengan begitu maka hanya bagian sangat kecil daripada cairan yang menunjukkan aktivitas sangat kompleks.

Bagaimana kita tidak terpukau oleh persesuaian antara teks Quran dengan pengetahuan ilmiah yang kita miliki sekarang.

  1. b.      Penanaman ( nidasi ) telur yang dibuahi dalam rahim

Telor yang sudah dibuahkan dalam “Trompe” turun bersarang di dalam rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan “bersarangnya Telur”. Quran menamakan uterus tempat telor dibuahkan itu Rahim (kata jamaknya Arham). Q.S.22 ayat 5: “Dan Kami tetapkan dalam ‘arham’ (rahim) apa yang kamu kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.”

Begitu sel telur dibuahi, ia turun ke rahim melalui tabung Falopia; bahkan pada saat ia turun itulah, ia telah mulai terpecah. Kemudian ‘menanamkan’ dirinya dengan menyusup ke dalam ketebalan atau kekentalan lendir dan otot-otot, begitu tembuni terbentuk. Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villi) yakni perpanjangan telor yang akan mengisap dari dinding rahim, zat yang perlu bagi membesarnya telor, sebagaimana akar tumbuhan masuk ke dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telor dalam rahim. Pengetahuan tentang hal ini baru diperoleh manusia pada zaman modern.

Penanaman sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim disebutkan dalam banyak ayat Alqur’an. Kata Arab yang digunakan dalam konteks ini adalah ‘alaq’, yang arti tepatnya adalah ‘sebentuk lintah yang menggantung/ melekat’ sebagaimana dalam ayat berikut ini: Q.S.75 ayat 37-38:   “Bukankah (manusia) dahulu merupakan nuthfah (setitik bagian) dari mani (sperma) yang ditumpahkan ? Kemudian ia menjadi alaqah (sebentuk lintah yang menggantung); lalu Allah membentuknya (dalam ukuran yang tepat dan selaras) dan menyempurnakannya.”

  1. c.      Evolusi embrio di dalam rahim

Segera setelah berevolusi melampaui tahap yang dicirikan di dalam Alqur’an oleh kata sederhana alaqah, embrio menurut Alqur’an, melewati satu tahap selanjutnya yang di dalamnya secara harfiah tampak seperti daging yang digulung-gulung (mirip daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi dengan daging (yang segar).

Sebagaimana kita ketahui ia terus tampak demikian sampai kira-kira hari kedua puluh ketika ia mulai secara bertahap mengambil bentuk manusia. Jaringan-jaringan tulang dan tulang-belulang mulai tampak dalam embrio itu yang secara berturutan diliputi oleh otot-otot. Gagasan ini diungkapkan dalam Alqur’an sebagai berikut. “Kemudian ‘nutfah’ (setitik bahan dari mani) itu Kami bentuk menjadi ‘alaqah’ (sebentuk lintah yang menggantung), lalu ‘alaqah’ itu Kami bentukenjadi ‘mudlghah’ (daging yang digulung-gulung), dan ‘mudlghah’ itu Kami bentuk menjadi ‘idham’ (tulang belulang), lalu ‘idham’ itu Kami bungkus dengan ‘lahm’ (daging yang utuh). Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” [Q.S.23 ayat 14]

Dua tipe daging yang diberi dua nama yang berbeda di dalam Alqur’an, yang pertama ‘daging yang digulung-gulung/dikunyah’ disebut sebagai ‘mudlghah’, sedang yang kedua ‘daging yang sudah utuh/segar’ ditunjukkan oleh kata ‘lahm’ yang memang menguraikan secara amat tepat bagaimana rupa otot itu. Jadi dari bentuk “mudlghah”, lalu berkembanglah sistem tulang (mesenhyme). Tulang yang sudah terbentuk dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksudkan dengan “lahm”.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka(ketahuilah) bahwasanya Kami telah membentuk kamu dari Thurab (tanah), kemudian dari Nutfah (setitik sperma), kemudian dari alaqah (sebentuk lintah yang melekat), kemudian dari mudlghah (daging yang digulung-gulung) yang mukhallaq (seimbang proporsinya) dan ghairi mukhallaq (yang kurang seimbang proporsinya), agar Kami jelaskan kepada kamu.” [Q.S.22 ayat 5]

Arti kata bahasa Arab “mukhallaq” berarti “dibentuk dengan proporsi seimbang”, sedang lawan katanya adalah “ghairi mukhallaq”. Dalam perkembangan embrio, yang sebelumnya tampak telanjang sebagai suatu kelumit daging yang tidak memiliki bagian-bagian yang bisa dibedakan, kemudian berkembang secara bertahap hingga mencapai satu bentuk manusia. Dan selama tahap-tahap ini ada bagian-bagian yang seimbang, namun ada pula bagian-bagian tertentu lainnya yang muncul tidak seimbang proporsinya: seperti kepala agak lebih besar volumenya dibanding bagian-bagian tubuh lainnya. Namun akhirnya hal ini akan menyusut, sedang struktur penopang hidup dasar membentuk kerangka yang dikelilingi otot-otot, sistem syaraf, sistem peredar, isi perut (bagian dalam tubuh) dan sebagainya.

Alqur’an juga menyebutkan munculnya indra-indra dan bagian-bagian dalam tubuh, disebutkan:“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” [Q.S.32 ayat 9]

Juga tentang terbentuknya seks (ciri kelamin): “Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari nutfah (setitik mani) yang dipancarkan/ditumpahkan.” [Q.S.53 ayat 45-46]

 

IPTEK Dan Bioteknologi

 

 

Gambar 7.1 Bioteknologi Klasik
A. Bioteknologi
Sebetulnya orang telah lama mengenal bioteknologi seperti penggunaan ragi dalam pembuatan tempe, kecap, maupun tape. Bioteknologi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata bios yang artinya hidup, teknos yang artinya teknologi, dan logos yang artinya ilmu. Pada tahun 1981 Perhimpunan Bioteknologi Eropa mendefinisikan bioteknologi sebagai penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa genetik secara terpadu dengan tujuan untuk mencapai penerapan teknologi dan kapasitas mikroba dan sel-sel jaringan yang dibiakkan. Inginnya manusia pohon pisang yang dimakan lengkap dengan variasi gizi dan imun yang sudah ada, tanaman yang tahan hama dan tidak meracuni bagi manusia itu sendiri. Manusia sekarang berupaya membuat beraneka macam tanaman transgenik dan hewan transgenik. Pertanyaanya apakah ini tidak membahayakan hidup manusia? Apakah tidak akan muncul penyakit yang secara insidental menyerang khalayak manusia itu sendiri?

Gambar 7.2 Prinsip bioteknologi modern
Bioteknologi adalah ilmu terapan biologi yang melibatkan disiplin ilmu mikrobiologi, biokimia, dan rekayasa genetika untuk menghasilkan produk dan jasa dengan tujuan meningkatkan nilai tambah bahan mentah. Bioteknologi merupakan penerapan teknik pendayagunaan organisme hidup atau bagian organisme untuk membuat, memodifikasi, meningkatkan, atau memperbaiki sifat makhluk hidup serta mengembangkan mikroorganisme untuk penggunaan khusus.

Gambar 7.2 Bioteknologi modern dalam pembuatan vaksin
Manfaat bioteknologi di sektor pertanian yaitu dapat digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dan gizi, di sektor kesehatan dapat memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat, dan di sektor lingkungan hidup, hasil bioteknologi modern dapat digunakan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Gambar 7.3 Pembuatan Wine
Perkembangan bioteknologi tidak serta merta ada tetapi melalui proses yang sangat panjang sejalan dengan kebutuhan manusia yang semakin kompleks dan banyak tuntutan dengan prinsip ekonomis yang sangat tinggi. Berikut merupakan perjalan bioteknologi.
1. Era bioteknologi generasi pertama=bioteknologi sederhana. Penggunaan mikroba masih secara tradisional, dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan. Contoh: pembuatan tempe, tape, cuka, dan lain-lain.
2. Era bioteknologi generasi kedua. Proses berlangsung dalam keadaan tidak steril. Contoh: a. produksi bahan kimia: aseton, asam sitrat b. pengolahan air limbah c. pembuatan kompos
3. Era bioteknologi generasi ketiga. Proses dalam kondisi steril. Contoh: produksi antibiotik dan hormon
4. Era bioteknologi generasi baru = bioteknologi baru. Contoh: produksi insulin, interferon, antibodi monoklonal. Era baru ini bioteknologi menggunakan vektor, berupa plasmid bakteri atau viral ADN virus, Bakteri yang berperan dalam perbanyakan plasmid melalui perbanyakan bakteri serta enzim, terdiri dari enzim Restriksi (pemotong plasmid/ADN) dan enzim Ligase (penyambung ptongan-potongan ADN)

Gambar 7.4 Pengolahan limbah air

B. Rekayasa Genetika
Rekayasa Genetika adalah teknik yang dilakukan manusia mentransfer (memindahkan) gen (DNA) yang dianggap menguntungkan dari satu organisme kepada susunan gen (DNA) dari organisme lain. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam rekayasa genetika secara sederhana urutannya sebagai berikut.
1. Mengindetifikasikan gen dan mengisolasi gen yang diinginkan.
2. Membuat DNA/AND salinan dari ARN Duta.
3. Pemasangan cDNA pada cincin plasmid.
4. Penyisipan DNA rekombinan kedalam tubuh/sel bakteri.
5. Membuat klon bakteri yang mengandung DNA rekombinan
6. Pemanenan produk.
Sedangkan manfaat Rekayasa Genetika adalah sebagai berikut.
1. Meningkatnya derajat kesehatan manusia, dengan diproduksinya berbagai hormon manusia seperti insulin dan hormon pertumbuhan.
2. Tersedianya bahan makanan yang lebih melimpah.
3. Tersedianya sumber energi yang terbaharui.
4. Proses industri yang lebih murah.
5. Berkurangnya polusi.
Gambar 7.4 Proses Rekayasa Genetika
C. Kultur Jaringan
Kultur jaringan atau kultur In-Vitro atau tissue culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik,sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna kembali. Teori dasar kultur jaringan adalah sebagai berikut.
1. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu sel).
2. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berediferensiasi menjadi tanaman lengkap.
Aplikasi dari teknik kultur jaringan dalam bidang agronomi dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
1. Perbanyakan vegetatif secara cepat (Micropropagation).
2. Membersihkan bahan tanaman/bibit dari virus
3. Membantu program pemuliaan tanaman (Kultur Haploid, Embryo Rescue, Seleksi In Vitro, Variasi Somaklonal, Fusiprotoplas, Transformasi Gen /Rekayasa Genetika Tanaman dll).
4. Produksi metabolit sekunder.
Faktor-faktor yang mempengaruhi regenerasi adalah bentuk regenerasi dalam Kultur In Vitro, eksplan yaitu bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman, media tumbuh, mengandung komposisi garam anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media, zat pengatur tumbuh tanaman lingkungan tumbuh, temperatur, lama atau panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar yang mengenai tanaman, dan ukuran wadah kultur.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah Pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, dan aklimatisasi. Pembuatan media dapat Media biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain, Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca yang juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
Setelah pembuatan media maka dilakukan inisiasi. Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
Kemudian setelah tahap inisiasi dilakukan sterilisasi. Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
Selanjutnya adalah multiplikasi, yaitu kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar. Pengakaran adalah fase di mana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
Aklimitasi perlu dilakukan agar eksplan tidak busuk atau ditumbuhi jamur. Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif
D. Plasma Nutfah
Plasma nutfah adalah sumber daya alam keempat di samping sumber daya air, tanah, dan udara yang sangat penting untuk dilestarikan. Pelestarian plasma nutfah sebagai sumber genetik akan menentukan keberhasilan program pembangunan pangan. Pemberdayaan plasma nutfah dilakukan dengan cara melakukan karakterisasi sifat morfologi dan agronomi dapat dibentuk suatu figur tanaman ideal dan dengan melakukan evaluasi sifat ketahanan/toleransi dapat diperoleh tanggap tanaman terhadap pengaruh biotik atau abiotik. Tujuan digunakan lebih lanjut dalam program pemuliaan tanaman secara umum adalah menghasilkan varietas baru untuk memperbaiki stabilitas produksi, memenuhi standar mutu, sesuai dengan pola tanam setempat, dan sesuai dengan keinginan konsumen.
E. Bayi Tabung
Istilah bayi tabung dikenal dengan nama Gamet Intra Velopian Tuba (GIFT), yaitu dengan cara mengambil sperma suami dan ovum isteri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (tuba valopi). Permasalahan muncul setelah bayi Louis lahir dari ibu kandungnya Lesley dan asal sperma dari bapak kandungnya John. Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat umat manusia tercengang. Bayi tabung (inseminasi buatan) pada masa kini tidak lagi hanya untuk menolong pasangan infertil. Bahkan sekarang motivasi percobaan bayi tabung adalah untuk mendapatkan anak super. Untuk maksud tersebut tidak lagi menggunakan sperma suami dari wanita yang menginginkan anak, melainkan dari sperma lelaki lain yang lazim disebut donor. Untuk memenuhi permintaan wanita yang menginginkan sperma donor, maka didirikanlah bank-bank sperma. Misalkan di California berdiri bank sperma Escondido dan juga di Inggris. Lebih jauh lagi mulai timbul inisiatif “ibu sewaan” yang pada prinsipnya adalah menyediakan seorang wanita untuk mengandung hasil konsepsi in vitro tadi.
Di Indonesia, masalah bank sperma mulai banyak dibicarakan setelah lahirnya bayi tabung pertama kali pada awal tahun 1980. Pada tahun itu, di Indonesia telah banyak anak-anak hasil ineminasi buatan yang berasal dari sperma donor.
Aspek medis bayi tabung dilihat dari tindakan fertilisasi ini vitro ini tampaknya sederhana dan mudah dilakukan, tetapi kenyataannya merupakan masalah yang rumit dan meerlukan persiapan yang matang. Selain itu juga diperlukan sarana dan fasilitas yang memadai, orang yang ahli dibidangnya, serta memerlukan ketelitian yang tinggi. Sedangkan aspek moral yang timbul adalah masalah setelah wanita melahirkan bayi tabung. Apakah wanita tersebut dapat menerima kenyataan bahwa dia dapat melahirkan tetapi prosesnya tidak seperti wanita yang lainnya. Di harapkan agar wanita dan anak tabung dapat hidup dengan wajar. Jangan sampai mereka menjadi bahan pergunjingan dan tontonan.
Kedudukan yuridis dalam keluarga, anak tabung sama dengan anak angkat yang telah di adopsi dan anak kandung. Anak tabung berhak mendapatkan warisan dari orang tuanya, berhak mendapatkan perlindungan dan perawatan. Sebaliknya, dia harus memenuhi kewajibannya mematuhi dan menghormati orang tuanya.
Bayi tabung/inseminasi buatan apabila dilakukan dengan sel sperma dan ovum suami isteri sendiri dan tidak ditransfer embrionya ke dalam rahim wanita lain termasuk isterinya sendiri yang lain (bagi yang berpoligami), maka Islam membenarkan. Dengan cara mengambil sperma suami, kemudian disuntikkan ke dalam vagina atau uterus isteri, maupun dengan cara pembuahan dilakukan di luar rahim, kemudian buahnya ditanam di dalam rahim isteri, asal kondisi pasangan suami isteri yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperoleh anak. Sebaliknya, kalau inseminasi buatan dilakukan dengan banuan donor sperma dan atau ovum, maka diharamkan, dan hukumnya sama dengan zina. Dan sebagai akibat hukumnya, anak hasi inseminasi tersebut tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya.
• “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (surat Al-Isra’ ayat 70). “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Surat At-Tin ayat 4), “Tidak halal bagi seseorang yang beriman pada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (vagina isteri orang lain)”. HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan hadits ini dipandang sahih oleh Ibnu Hibban.
F. Kloning
Secara bahasa klon berasal dari kata klόόn (yunani), yang artinya tunas. Kloning adalah tindakan menggandakan atau mendapatkan keturunan jasad hidup tanpa fertilisasi, berasal dari induk yang sama, mempunyai susunan (jumlah dan gen) yang sama dan kemungkinan besar mempunyai fenotip yang sama.
Kloning dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) yang telah diambil ini selnya (nukleus) dari tubuh manusia yang selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita. Perbandingan antara Pembuahan Alami dengan Kloning: Pembuahan alami berasal dari proses penyatuan sperma yang mengandung 23 kromosom dan ovum yang mempunyai 23 kromosom. Ketika menyatu jumlah kromosomnya menjadi 46. Proeses kloning dilakukan dengan pengambilan inti sel, penggabungan dengan sel Telur, dan yang terakhir adalah transfer ke Rahim. Pengambilan sel dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang. Lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil dari seorang perempuan. Lalu dengan bantuan cairan kimiawi khusus dan kejutan arus listrik, inti sel digabungkan dengan sel telur. Setelah proses penggabungan ini terjadi, sel telur yang telah bercampur dengan inti sel tersebut ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbanyak diri, berkembang, berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu keturunan yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alami.

G. Iptek Dalam Pandangan Islam
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Kesejahteraan fisikal yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa diselingi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional dan multidireksional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat modern dan postmodern saat ini memang memperlihatkan kemajuan dan kebaikan kesejahteraan material yang seolah menjanjikan kebahagian hidup bagi umat manusia. Namun karena kemajuan tersebut tidak seimbang, timpang, lebih mementingkan kesejahteraan material bagi sebagian individu dan sekelompok tertentu seperti negara-negara maju saja dengan mengabaikan, bahkan menindas hak-hak dan merampas kekayaan alam negara lain dan orang lain yang lebih lemah kekuatan iptek, ekonomi, dan militernya, maka kemajuan di Barat melahirkan penderitaan neokolonialisme-neoimperialisme di Dunia Timur dan Selatan. Kemajuan Iptek di Barat, yang didominasi oleh pandangan dunia dan paradigma sains yang positivistik-empirik sebagai anak kandung filsafat-ideologi materialisme-sekuler, pada akhirnya juga telah melahirkan penderitaan dan ketidakbahagiaan psikologis baik di Barat maupun di Timur.
Krisis multidimensional terjadi akibat perkembangan Iptek yang lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama. Krisis ekologis, misalnya: berbagai bencana alam: Tsunami, gempa dan kacaunya iklim dan cuaca dunia akibat pemanasan global yang disebabkan tingginya polusi industri di negara-negara maju; Kehancuran ekosistem laut dan keracunan pada penduduk pantai akibat polusi yang diihasilkan oleh pertambangan mineral emas, perak dan tembaga, seperti yang terjadi di Buyat, Sulawesi Utara dan di Freeport Papua, Fukhusima dan Minamata Jepang. Kebocoran reaktor Nuklir di Chernobil (Ukraina), Rusia, dan di India, dll. Krisis Ekonomi dan politik yang terjadi di banyak negara berkembang dan negara miskin, terjadi akibat ketidakadilan dan ’penjajahan’ (neo-imperialisme) oleh negara-negara maju yang menguasai perekonomian dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.
Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan pesta pora bangsa-bangsa negara maju.
Ironis bahwa Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam minyak dan gas bumi, justru mengalami krisis dan kelangkaan BBM. Ironis bahwa ditengah keberlimpahan hasil produksi gunung emas-perak dan tembaga serta kayu hasil hutan yang ada di Indonesia, kita justru mengalami kesulitan dan krisis ekonomi, kelaparan, busung lapar, dan berbagai penyakit akibat kemiskinan rakyat. Kemana harta kekayaan kita yang Allah berikan kepada tanah air dan bangsa Indonesia ini? Mengapa kita menjadi negara penghutang terbesar dan terkorup di dunia?
Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian politik, ekonomi dan moral bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain kecuali dengan pembinaan mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi keimanan-taqwa kepada Allah SWT. Serta melawan pengaruh buruk budaya sampah dari Barat yang Sekular, Matrialis dan hedonis (mempertuhankan kenikmatan hawa nafsu).
Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT Sumber segala Kebaikan, Keindahan dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang matrialis dan sekular, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-Qur’an yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan dzikir (ingat) kepada Allah. Yang paling terkenal adalah ayat: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imron [3] : 190-191) “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Mujadillah ayat 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda/sinyal) KeMahaKuasaan dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasulullah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Karena alam semesta yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan–, dan ayat-ayat suci Tuhan (Alqur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW yang dipelajari melalui agama, adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaliyat) Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari satu Sumber yang Sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta.
Keutamaan orang-orang yang berilmu dan beriman sekaligus, diungkapkan Allah dalam ayat-ayat berikut. “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar ayat 9).“Allah berikan al-Hikmah (Ilmu pengetahuan, hukum, filsafat dan kearifan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, benar-benar ia telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (berdzikir) dari firman-firman Allah.” (QS. Al-Baqoroh ayat 269). “… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Mujaadilah ayat 11)
Rasulullah SAW pun memerintahkan para orang tua agar mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. “Didiklah anak-anakmu, karena mereka itu diciptakan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu kini.” (Al-Hadits Nabi SAW). “Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap Muslimin, Sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu.” (Al-Hadits Nabi SAW).

 

 

Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Belajar

ANALISIS KUALITAS INSTRUMEN EVALUASI HASIL BELAJAR

 

Makalah  Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Pengembagan Evaluasi Pendidikan

Dosen Pengampu: Hendro Widodo M. Pd

Disusun oleh :

Nurmawati Restianingsih

10410114

34

IV (PAI F)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Instrumen evaluasi dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu instrumen evaluasi hasil belajar kognitif, instrumen evaluasi hasil belajar afektif, dan instrumen evaluasi hasil belajar psikomotor. Instrumen evaluasi hasil belajar tersebut perlu dianalisis sebelum dan sesudah digunakan, yang bertujuan agar dapat dihasilkan instrumen evaluasi yang memiliki kualitas tinggi.

Tujuan dari analisis kualitas instrument evaluasi hasil belajar ini adalah untuk mengetahui seperti apa kualitas dari masing masing instrument tersebut, apakah instrument tersebut telah layak dipakai. Atau apakah instrument tersebut sudah sesuaideengan syarat syarat instrument hasil belajar.  Dalam analisis ini dilihat dari hasil tes yang telah dilakukan. Tes dari masing masing ranah akan dilihat hasilnya untuk menentukan kualitas dari instrument evaluasi hasil belajar tersebut.

Selain itu pelaksanaan analisis kualitas instrument juga ditentukan waktunya. Analisis instrument bisa dilaksanakan atau dilakukan sebelum maupun sesudah dilaksanakan uji coba. Cara analisis instrument yang telah disusun adalah dengan cara dilihatkesesuaiannya dengankopetensi dasar dan indikator yang di ukur serta pemenuhan persyaratan baik dari ranah materi , konstruksi dan bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN

Instrument evaluasi dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu instrumen evaluasi hasil belajar kognitif, instrumen evaluasi hasil belajar efektif, instrumen evaluasi hasil belajar psikomotor. Instrumen evaluasi untuk ketiga hasil belajar tersebut perlu dianalisis sebelum dan sesudah digunakan yang tujuannya agar dapat dihasilkan instrument evaluasi yang memiliki kualitas tinggi. Pada uraian berikut akan dibahas teknik analisis kualitas instrument secara berurutan mulai kualitas instrument evaluasi hasil belajar koknitif, instrument evaluasi hasil belajar afektif dan instrument hasil belajar psikomotor.

  1. Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Kognitif

Pada umumnya hasil belajar kognitif dinilai dengan tes. Tes dalam bentuk butir – butir soal sebelum digunakan hendaknya dianalisis terlebih dahulu agar memenuhi syarat sebagai alat evaluasi yang memiliki kualitas tinggi.

Cara menganalisis butir – butir tes tersebut dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu:

  1. Analisis Tes Secara Teoritik Atau Analisis Kualitatif

Analisis secara teoritis atau analisis kualitatif dapat dilakukan sebelum maupun setelah dilaksanakan uji coba. Cara analisisnya adalah dengan cara mencermati butir – butir soal yang telah disusun dilihat dari: kesesuaian dengan kompetensi dasar dan indikator yang diukur serta pemenuhan persyaratan baik dari ranah materi, konstruksi dan bahasa. Butir – butir soal yang akan di analisis dapat berupa butir soal bentuk uraian, butir soal bentuk melengkapi,dan butir soal bentuk pilihan ganda (multiple choice).

  1. Analisis Tes Secara Kuantitatif

Analisis ter secara kuantitatif diarahkan untuk menelaah tingkat validitas soal, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, dan khusus untuk model atau tipe soal pilihan ganda perlu juga ditelaah efektifitas fungsi distraktor.

a)      Analisis validitas tes

Validitas (validity, kesahihan) berkaitan dengan permasalahan apakah tes yang dimaksudkan untuk mengukur sesuatu itu memang dapat mengukur secara tepat sesuatu yang akan dikur tersebut.[1] Secara singkat dapat dikatakan bahwa validitas tes mempersoalkan apakah tes itu dapat mengukur apa yang akan diukur. Misalnya, jika tes itu dimaksudkan untuk mengukur tingkat kognitif atau ingatan tentang macam – macam rukun iman, memang secara tepat dapat untuk mengukur kemampuan itu, bukan pengetahuan yang lain, misalnya penjelasan tentang pengertian iman. Jika tes itu dimaksudkan untuk menanyakan kemampuan menganalisis sebab – sebab suatu kaum diberi azab oleh Allah (kognitif tingkat analisis), tes itu memang mampu untuk mengungkapkan kemampuan itu, dan bukan kemampuan – kemampuan yang lain yang menyebabkan bias.

Analisia validitas tes dapat dilakukan dari dua segi, yaitu: dari segi tes sebagai suatu totalitas dan dari segi itemnya, sebagai bagian tak terpisahkan dari tes secara totalitas. Macam – macam analisis validitas tes dapat digambarkan sebagai berikut:

Validitas Isi

(Content Validity)

Validitas Teoritis

(Rasional)                     Validitas Konstruk

(Construct Validity)

Tes Totalitas                                              Validitas Ramalan

(Predictive Validity)

Validitas Tes                                   Validitas Empirik

Validitas Bandingan

Butir Soal                                                          (Concurrent Validity)

1)      Analisis validitas tes secara totalitas

Analisis validitas tes secara totalitas maksudnya adalah analisis validitas tes secara keseluruhan. Missal tes terdiri dari 50 butir soal, sehingga yang dianalisis adalah keseluruhan dari 50 butir soal tersebut. Analisis validitas tes secara totalitas secara garis besar dapat dibedakan kadalam dua kategori, yaitu validitas teoritis (rasional) dan validitas empirik. Validitas teoritis (rasional) adalah validitas yang dalam pertimbangannya dilakukan dengan cara analisis rasional, sedangkan validitas empiric adalah validitas yang dalam pertimbangannya dilakukan dengan cara menganalisis data data empirik. Artinya untuk melakukan analisis jenis validitas empiric memerlukan data – data dari lapangan yang merupakan hasil dari uji coba yang berwujud data kuantitatif dan untuk keperluan analisis validitas itu diperlukan jasa statistik.

Jenis validitas yang termasuk kategori dalam validitas teoritis (rasional) adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk (construct validity), sedangkan yang termasuk kategori dalam validitas empirik adalah validitas bandingan (concurrent validity) dan validitas ramalan (predictive validity)

  1. Validitas teoritis (rasional)
    1. Validitas isi

Validitas isi adalah validitas yang mempertannyakan bagaimana kesesuaian antara butir – butir soal dalam tes dengan deskripsi bahan yang diajarkan. Jadi sebuah soal dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi ini sering juga disebut validitas kurikuler.[2]

Validitas isi dapat diusahakan terciptanya sejak saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran. Dalam menganalisisnya dilakukan dengan menggunakan analisis rasional. Cara yang bisa ditempuh dalam penyusunan tes adalah dengan menyusun kisi – kisi soal. Setelah kisi – kisi disusun, penulisan butir soal haruslah bardasarkan kisi – kisi yang telah disusun tersebut. Pada kisi – kisi itu paling tidak harus terdapat aspek kompetensi dasar, bahan atau diskripsi bahan, indikator, dan jumlah pertannyaan perindikator. Sebelum kisi – kisi dijadikan pedoman dalam penyusunan butir – butir soal, terlebih dahulu haruslah ditelaah dan dinyatakan baik. Setelah butir – butir pertannyaan disusun, maka butir – butir pertanyaan juga harus ditelaah dengan menggunakan kriteri tertentu disamping disesuaikan dengan kisi – kisi. Penelaahan harus dilakukan oleh orang yang berkompeten dalam bidang yang bersangkutan, atau yang dikenal dengan istilah penilaian oleh ahlinya (exoert judgement).

  1. Validitas konstruk

Validitas konstruk mempertanyakan apakah butir – butir soal dalam tes itu telah sesuai dengan tingkatan kompetensi atau ranah yang ada yang sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum. [3]

Analisis validitas konstruk, suatu tes dapat dilakukan dengan cara melakukan pencocokan antara kemampuan berfikir yang tercantum dalam setiap rumusan indikator yang akan diukur. Dengan demikian kegiatan analisis validitas konstruk ini dilakukan secara rasional, dengan berfikir kritis atau menggunakan logika. Disamping itu, sebagaimana halnya, dalam validitas isi, cara analisis dapat pula dilakukan dengan melakukan diskusi dengan orang yang ahli di bidang yang bersangkutan.dengan kata lain uji validitas konstruk dilakukan dengan cara expert judgement.

Uji validitas konstruk juga bisa dilakukan lewat program computer, yaitu dengan menggunakan analisis faktor. Jika cara ini yang dipakai, uji faliditas tersebut harus berdasarkan data – data empiric. Hal ini berarti alat tes tersebut harus diuji cobakan terlebih dahulu, dan data – data hasil uji coba itulah yang kemudian dianalisis dengan computer.

  1. Validitas empirik
    1. Validitas ramalan

Meramal artinya memprediksikan mengenai suatu hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang, yang saat ini belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas ramalan atau prediksi apabila memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.[4]

Analisis validitas ramalan tes tersebut dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara nilai tes tersebut dengan kriteri atau tolok ukur, misalnya, tes masuk ujian SLTA. Tes ujian masuk SLTA memiliki validitas ramalan yang baik jika memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah antara tes yang sedang duselidiki atau di uji validitasnya, dengan criteria yang ada. Dengan kata lain terdapat hubungan searah yang sangat erat antara tes yang sedang di uji validitasnya dengan criteria yang telah ditentukan. Karena nilai – nilai tes hasil ujian seleksi itu berjalan searah atau sejajar dengan nilai – nilai tes hasil belajar di SLTA, maka hubungan antara kedua variable tersebut adalah termasuk kedalam kategori hubungan searah, yang dalam ilmu statistic dikenal dengan istilah korelasi positif.

Cara yang biasa digunakan untuk mencari dalam rangka ujian validitas ramalan ini adalah dengan menggunaka teknik analisis korelasional product moment dari Karl Pearson.[5]

Prosedur untuk melakukan uji validitas tes adalah sebagai berikut:

(1)   Melakukan komputasi atau perhitungan metematis untuk mencari harga koefisien r Product Moment dengan rumus:

Adapun langkah langkah perhitungannya adalah:

(a)    Menyiapkan table perhitungan untuk mencari nilai 𝜮Y, 𝜮Y, ,  , dan 𝜮𝜲Y.

(b)   Menghitung harga r Product Moment dengan rumus:

(2)   Memberikan interprestasi terhadap harga koefisien product moment.

Ada dua cara dalam interprestasi ini, yaitu:

  1. Melihat harga r hitung den kemudian dikonsultasikan dengan patokan berikut:

Nilai r

Kategori

0,80 – 1,00

0,60 – 0,79

0,40 – 0,39

0,20 – 0,38

0,00 – 0,19

Sangat Tinggi

Tinggi

Cukup

Rendah

Sangat Rendah

  1. Memilih harga r hitung dan kemudian di konsultasikan dengan harga r tabel Product Moment dengan criteria apabila harga r hitung sama dengan atau lebih besar dengan harga r tabel berarti ada korelasi antara variabel X dengan variabel Y yang berarti tes yang kita analisis memiliki validitas. Untuk melihat harga r tabel perlu dicari terlebih dahulu derajat kebabasan (degree of freedom) atau singkatan df dengan rumus: df= N – nr, dimana N adalah banyaknya peserta tes (testee) dan nr adalah banyaknya variabel yang dikorelasikan.
  2. Validitas bandingan

Validitas bandingan disebut juga dengan istilah validitas sama saat, validitas ada sekarang atau validitas pengalaman. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas pengalaman jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Dalam hal ini hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu berdasarkan pada hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent).[6]

Dalam rangka menguji validitas pengalaman atau bandingan, data hasil tes yang diperoleh sekarang kita bandingkan dengan data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh masa lampau itu. Jika hasil tes sekarang mempunyai hubungan searah dengan hasil tes berdasarkan pengalaman yang lalu, maka tes tersebut dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan atau pengalaman.

Cara melakukan analisis validitas bandingan atau pengamalan ini adalah sama seperti pada analisis validitas ramalan yaitu dengan mengorelasikan hasil yang sekarang dengan hasil tes yang terdahulu. Hasil tes yang sekarang menjadi variable X dan hasil tes yang dahulu menjadi variable Y. teknik hasil uji korelasinya juga menggunakan hasil korelasi product moment.

2)      Analisis Validitas Butir Soal

Yang dimaksud dengan validitas butir soal adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir soal, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas, dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir soal tersebut.[7]

Cara untuk menganalisis adalah dengan mengkorelasikan antara skor tiap – tiap soal yang dicapai oleh masing – masing testee dengan skor total. Sebutir soal dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid jika skor – skor pada butir soal yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah dengan skor total atau dengan bahasa statistik ada korelasi positif yang signifikan antara skor butir soal dengan skor totalnya. Skor total disini berkedudukan sebagai variable terikat (dependent variable) sedangkan skor butir soal berkedudukan sebagai variable bebasnya (independent variable). Jika demikian, maka untuk sampai pada kesimpulan bahwa butir – butir soal yang ingin diketahui validitasnya, yaitu valid ataukah tidak, kita dapat menggunakan teknik korelasi sebagai teknik analisisnya. Sebutir soal dapat dikatakan valid apabila skor butir soal yang bersangkutan terbukti mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan skor totalnya.

Teknik korelasi yang dipandang tepat untuk digunakan dalam analisis validitas butir soal ini adalah dengan rumus korelasi Point Bisserial. Hal ini melihat karena jenis data yang akan dianalisis adalah data diskret murni atau data dikhotomik dan data kontinyu.

Indeks korelasi Point Bisserial dibrti lambing , rumus korelasinya adalah sebagai berikut:

Keterangan:

: koefisien korelasi point bisserial yang melambangkan kekuatan korelasi antara variabel I dengan variabel II, yang dalam hal ini dianggap sebagai koefisien validitas butir soal.

: skor rata – rata hitung yang dimiliki testee, untuk butir soal yang bersangkutan telah dijawab dengan betul.

: skor rata – rata dari skor total.

: deviasi standar dari skor total.

: proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir soal yang di analisis validitasnya.

: proporsi testee yang menjawab salah terhadap butir soal yang di analisis validitasnya.

Langkah – langkah untuk melakukan analisis validitas butir soal adalah sebagai berikut:

(1)   Menyiapkan tabel perhitungan korelasi poin bisserial.

(2)   Mencari mean atau rata – rata hitung deri skor total ( dengan rumus:

(3)   Mencari deviasi standar total (, dengan rumus:

(4)   Mencari atau menghitung untuk butir soal yang dianalisis validitasnya.

(5)   Menghitung korelasi point bisserialnya ().

(6)   Member interprestasi. Untuk memberikan interprestasi kida dapat berkonsultasi dengan harga r tabel Product Moment dengan terlebih dahulu mencari df (derajad kebebasan), yaitu dengan cara df = N – nr.

b)      Analisis reliabilitas tes

Salah satu syarat tes sebagai salah satu instrumen evaluasi adalah memiliki reliabilitas yang tinggi. Tes yang memiliki reliable reabilitas tes atau keajegan, ketetapan berhungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes akan menghasilkan kepercayaan yang tiggi apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Jika hasilnya berubah – ubah, perubahan yeng terjadi dapat dikatakan tidak berarti.

Hubungan validitas dengan reliabilitas dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Validitas itu penting, sedangkan reliabilitas itu perlu, karena reliabilitas itu menyokong validitas.
  • Tes yang valid umumnya reliabel, tetapi tes yang reliabel belum tentu valid.

Untuk memper oleh tes yang memiliki reliabilitas (keajegan) itu memang tidak mudah, karena unsure kejiwaan manusia sendiri yang menjadi objek pengukuran tidak ajeg. Misalnya: kemampuan hasil belajar, kecakapan, sikap dan sebagainya itu semua bisa berubah ubah dari waktu ke waktu.

Hal hal yang mempengaruhi reliabilitas hasil tes:

  • Hal – hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, seperti panjang tes dan kualitas butir – butir tes. Semakin panjang dan semakin baik kualitasnya maka akan semakin tinggi tingkat reliabilitasnya.
  • Hal – hal yang berkaitan dengan testee (peserta tes). Tes yang dikenakan kepada kelompok yang tidak terpilih atau ditentukan secara acak biasanya reliabilitasnya lebih besar dibandingan yang dikenakan kepada kelompok testee yang terpilih seperti pada kelompok anak yang pandai – pandai saja.

v  Jenis Analisis Reliabilitas Tes

  1. Analisis reliabilitas tes bentuk uraian (essay)

Analisis reliabilitas tes bentuk uraian umumnya menggunakan rumus Alpha dari Cronbach, karena model scoring soal bentuk uraian ini bukan model dikotomik, kalau benar bernilai satu dan jika salah bernilai 0, tetapi sekoringnya lebih bersifat kontinum (rentangan angka, misalnya 0 – 5 atau 0 – 10, dan sebagainya).

Adapun rumus Alphanya adalah:

Keterangan:

: koefisien reliabilitas tes.

: banyaknya butir soal yang dikeluarkan dalam tes.

1          : bilangan kostan (menjadi kesepakatan)

: jumlah varian skor dari tiap tiap butir soal.

: Varian total

Langkah – langkah untuk melakukan analisis:

1)      Menjumlahkan masing – masing soal yang dicapai semua testee () dan mencari skor total yang dicapai masing – masing testee () dan mengkuadratkan skor skor total tersebut ().

2)      Menghitung jumlah kuadrat skor masing – masing butir soal (disingkat  atau ).

3)      Menghitung varian dari masing – masing butir soal (item).

4)      Menghitung jumlah varian skor butir soal secara keseluruhan.

5)      Menghitung varian total () dengan rumus:

6)      Menghitung koefisien reliabilitas tes dengan menggunakan rumus Alpha di atas.

7)      Memberikan interpretasi terhadap harga koefisien reabilitas tes, dengan menggunakan patokan sebagai berikut:

  1. Apabila  sama dengan atau lebih besar dari 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliable).
  2. Apabila  lebih kecil dari pada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji raliabilitasnya dinyatakan belim memiliki reliabilitas yang tinggi (unreliable).
  1. Analisis reliabilitas tes bentuk objektif

Penentuan reliabilitas tes bentuk objektif dapat dilakukan melalui salah satu dari pendekatan, yaitu pendekatan tes ulang (tes – retest), pendekatan tes sejajar (alternate – forms), dan pendekatan konsisten internal (internal consistency).

  1. Pendekatan tes ulang

Pendekatan ini menunjukkan konsistensi pengukuran dari waktu ke waktu dan menghasilkan koefisien reliabilitas yang sering disebut sebagai koefisien stabilitas. Prinsip penentuan reliabilitas tes dengan mengenakan satu buah tes yang dilakukan dua kali dengan tenggang waktu tertentu, terhadap sekelompok subjek yang sama.[8] Pndktan ini jga disebut dengan istilah single test – double trial method.

Penentuan koefisien reliabilitas pada pendekatan ini dilakukan dengan jalan mengorelasikan skor hasil pelaksanaan tes pertama dengan skor hasil pelaksanaan tes yang kedua. Teknik korelasi yang dapat digunakan adalah teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson.

Kelemahan pendekatan tes ulang adalah kurang praktisnya pengenaan tes dua kali dan besarnya kemungkinan terbawa efek bawaan (carry – effects) dari satu pengenaan tes ke pengenaan yang kedua.

  1. Pendekatan tes sejajar

Pendekatan tes sejajar hanya dapat dilakukan apabila tersedia dua bentuk tes yang dapat dianggap memenuhi asumsi parallel. Salah satu indikator terpenuhinya asumsi parallel adalah setaranya korelasi antara skor kedua instrumen tersebut dengan skor suatu ukuran lain.

Tentu saja untuk mendapatkan paralel kedua bentuk instrument harus disusun dengan tujuan mengukur objek psikologis yang sama, berdasarkan blue print (pola rancangan) yang sama serta spesifikasi yang sama pula.

Penentu koefisien reliabilitas pada pendekatan ini sama seperti pada pendekatan tes ulang, yaitu dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor hasil tes pertama dengan skor hasil tes yang kedua. Teknik korelasi yang dapat digunakan adalah teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson.

Kelemahan utama pada pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua alat ukur yang memenuhi persyaratan paralel atau sejajar. Di samping itu pendekatan ini juga tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan terjadinya efek bawaan.

  1. Pendekatan konsistensi internal

Estimasi reliabilitas dengan pendekatan konsistensi internal didasarkan pada data sekali penggunaan satu bentuk tes pada sekelompok subjek (single trial administration).

Penentuan koefisiensi reliabilitas dilakukan setelah keseluruhan instrumen yang telah dikenakan pada subjek itu dibagi menjadi beberapa bagian. Suatu instrumen dapat dibagi menjadi dua, tiga, atau empat bagian dan bahkan dapat dibagi menjadi sebanyak jumlah item – itemnya. Bentuk dan sifat alat ukur serta banyaknya bagian yang dibuat akan menentukan teknik perhitungan koefisien reliabilitasnya.

  1. Analisis reliabilitas tes dengan menggunakan computer (program SPSS)

Langkah – langkah analisis dengan program SPSS adalah sebagai berikut:

  1. Membuka program SPSS dengan langkah: klik start, klik program, klik SPSS 11.5 for windows.
  2. Memasukkan data (in put data) pada kolom – kolom yang tersedia dengan mengetikkannya satu persatu, atau di copy paste lewat data yang telah masuk dalam program excel.
  3. Menghitung koefisiensi reliabilitas dengan langkah: klik analyze, klik scale, dan kli reability analysis. Maka akan muncul suatu lembar kerja, lalu pindahkan variable yang akan di analisis dari kolom di sebelah kiri dan kolom sebelah kanan dengan mengklik tanda panah kecil. Selanjutnya pilih formula yang tepat sesuai dengan jenis data kita, formula Alpha dan terakhir klik ok.
  4. Maka kemudian akan muncul hasil dari koefisien relianilitas.
  5. Memberikan inspretasi dengan cara yang sama dengan menggunakan hitungan manual yaitu dikatakan telah reliabel jika hasil hitungannya sama dengan atau lebih besar dari 0,70. Hasil hitungan tersebut diperoleh dari koefisien reliabilitas Alpha sebesar 0,3405 dan berada di bawah 0,70. Maka dapat disimpulkan bahwa tes tersebut belum reliabilitas.

c)      Analisis tingkat kesukaran soal

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini biasanya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 – 1,00. Semakin besar indeks tingkat kesukaranyang diperoleh dari hasil perhitungan, maka semakin mudah soal itu. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor butir soal. Pada prinsipnya skor rata – rata yang diperoleh testee pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal.

Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya dikaitkan dengan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang. Sedangkan untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi atau sukar, dan untuk keperluan diagnosis biasanya biasanya dipergunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah atau mudah.

Rumus yang dipergunakan untuk menganalisis tingakat kesukaran soal objektif adalah sebagai berikut:

ITK = indeks tingkat kesukaran soal

B = banyaknya siswa yang menjawab bwnar butir soal

N = banyak siswa yang mengikuti tes

Langkah – langkah analisisnya:

  1. Menjumlah skor masing – masing butir soal yang dicapai oleh semua
  2. Menghitung indeks tingkat kesukaran butir soal,dengan rumus:

TK

  1. Memberikan interprestasi terhadap hasil perhutungan. Cara memberikan inter prestasi adalah dengan mengkonsultasikan hasil perhitungan indeks tingkat kesukaran tersebut dengan suatu oatokan  atau criteria sebagai berikut:

Indeks Tingkat Kesukaran

Kategori

0,00 – 0,30

0,31 – 0,70

0,71 – 1,00

Soal tergolong sukar

Soal tergolong sedang

Soal tergolong mudah

Sedangkan untuk menghitung tingkat kesukaran soal bentuk uraian dengan rumus berikut ini:

Tindak lanjut dari hasil analisis tinggkat kesukaran butir soal ini adalah sebagai berikut:

(a)    Mencatat butir soal yang sudah baik (memiliki TK= cukup) dalam buku bank soal.

(b)   Bagi soal yang terlalu sukar ada tiga kemungkinan, yaitu: didrop atau dibuang atau diteliti ulang dimana letak yang membuat soal tersebut terlalu sukar.

(c)    Untuk butir yang terlalu mudah juga ada tiga kemungkinan seperti yang dijelaskan pada point b diatas.

Untuk mengetahui indeks daya pembeda soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

IDP =

Keterangan:

IDP      : indeks daya pembeda soal

BA       : jumlah jawaban benar pada kelompok atas

BB       : jumlah jawaban benar pada kelompok bawah

N         : banyaknya siswa yang mengikuti tes.

d)     Analisis daya pembeda soal

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antra siswa yang mampu/pandai menguasai materi yang ditanyakan dan siswa yang tidak mampu atau kurang pandai belum menguasai materi yang ditanyakan. Daya pembeda soal dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya angka indeks daya pembeda. Indeks daya pembeda ini juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal maka semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan 1,00. Semakin tnggi daya pembeda suatu soal maka semakin kuat atau bail soal itu. Jika daya pembeda negative (<0) erarti lebih banyak kelompok bawah (siswa yang tidak atau kurang mampu) yang menjawab benar soal itu dibandingkan dengan kelompok atas (siswa yang mampu). Indeks daya pembeda soal tersebut dapat digambarkan dalam sebuah garis kontinum.

Untuk mengetahui indeks daya pembeda soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

IDP =

Keterangan:

IDP      : indeks daya pembeda soal

BA       : jumlah jawaban benar pada kelompok atas

BB       : jumlah jawaban benar pada kelompok bawah

N         : banyaknya siswa yang mengikuti tes.

Soal yang tidak baik adalah soal yang ketika digunakan muncul tiga kemungkinan berikut:

  1. Siswa yang pandai dan yang tidak pandai sama – sama menguasai dan sama – sama bisa menjawab dwngan benar;
  2. Siswa yang pandai dan yang tidak pandai sama – sama tidak dapat menjawab dengan benar;
  3. Siswa yang pandai tidak dapat menjawab dengan benar, sebaliknya siswa yang tidak pandai justru dapat menjawab denan benar.

Langkah – langkah analisis:

  1. Menjumlah skor total yang dicapai oleh masing – masing siswa (testee) dan skor total setiap butir soal dengan sekaligus membagi testee menjadi dua kelompok adas dan kelompok bawah.
  2. Membagi para testee menjadi dua kelompok, yaitu kelompok atas (kelompok testee yang memperoleh skor tinggi) dan kelompok bawah (kelompok testee yang memperoleh skor rendah) dan selanjutnya membubuhkan kode pada testee, yang masuk kelompok atas dengan kode A dan testeekolompok bawah dengan kode B. care pembagian kelompok ini ada dua cara:
    1. Untuk jumlah kecil yakni jumlah testee kurang dari 100, caranya adalah seluruh testee dibagi menjadi dua bagian sama besar, 50% untuk kelompok atas dan 50% untuk kelompok bawah. Untuk menentukan siapa saja yang masuk kelompok atas dan yang mauk kelompok bawah terlebih dahulu para testee tersebut diurutkan dari yang memperoleh skor tertinggi hingga skor terendah. Bila jumlah testee ganjil, maka teste yang menduduki urutan tengah dapat diikutkan kelompok atas sekaligus kelompok bawah.
    2. Apabila jumlah testee lebih dari 100 (jumlah besar), maka kelompok atas cukup diambil 27%nya mulai dari testee yang memperoleh skor tertinggi dan di ambil pula kelompok bawah 27% nya juga dan diambil dari testee yang memperoleh skor terendah.
    3.  Menghitung indek daya beda butir soal dengan rumus diatas.
    4. Memberikan interpretasi terhadap hasil perhitungan. Cara member interpretasi adalah dengan cara mengkonsultasikan hasil perhitungan indeks tingkat daya pembeda tersebut dengan suatu patokan atau criteria sebagai berikut:

Indeks Daya Beda

Klasifikasi

Interpretasi

Tanda negative

<0,20

0,20 – 0,39

0,40 – 0,69

0,70 – 1,00

No discrimination

Poor

Satisfactory

Good

excellent

Tidak ada daya beda

Daya beda lemah

Daya beda cukup

Daya beda baik

Daya beda baik sekali

Untuk mengetahui daya beda mengetahui daya beda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

IDP =

Langkah langkah analisis:

1)      Membuat tabel perhitungan untuk menentukan kelompok atas dan kelompok bawah. Untuk menentukan pembagian kelompok ini langsung mkelihat skor masing – masing testee pada butir soal yang dianalisis, jadi tidak perlu melihat skor total yang dicapai masing – masing testee untuk setiap butir.

2)      Menghitung indek daya pembeda dengan terlebih dahulu menghitung mean (rata – rata hitung) kelompok atas (MA) dan kelompok bawah (MB).

e)      Analisis fungsi distraktor

Analisis fungsi distraktor dilakukan khusus untuk soal bentuk objektif model pilihan ganda (multiple choice item). Didalam soal pilihan ganda dilengkapi dengan beberapa alternative jawaban yang disebut dengan option (opsi). Opsi biasa berkisar antara 3 sampai dengan 5 buah. Dari opsi tersebut terdapat salah satu jawaban yang benar dan itu yang disebut dengan kunci jawaban, sedangkan sisanya merupakan jawaban salah yang disebut dengan distraktor (pengecoh).

Analisis distraktor dimaksud untuk mengetahui apakah distraktor tersebut telah berfungsi secara afektif atau tidak.

Suatu distraktor atau pengecoh dapat dikatakan berfungsi efektif apabila:

  1. Paling tidak dipilih oleh 5% peserta tes.
  2. Lebih banyak dipilih oleh kelompok bawah.

f)       Analisis butir soal dengan program computer

Analisis butir soal dengan program koputer dapat dilakukan antara lain dengan  menggunakan program iteman.

Langkah – langkah melakukan program iteman dari pemasukan data ke dalam computer hingga sosialisasi hasil.

  1. Cara pemasukan data
    1. Klik star, program, accessories dan pilih notpad.
    2. Masukkan data ke file.
    3. Simpan hasil pengetikan data dalam satu folder dengan program iteman. Contoh: UIN1, dan keluar dari notepad.
    4. Langkah analisis
      1. Buka program iteman dengan cara buka window exsplore dan cari program iteman dan klik dua kali.
      2. Setelah muncul program microcat testing system dandibawahnya berturut – turut aka nada perintah yang muncul, dan ikutilah.
      3. Setelah semua perintah di ikut I dan selesai serta hasil dapat di lihat, keluar dari program iteman.
      4. Melihat hasil analisis

Bisa melalui program notepad atau lewat windows exsplor dan cari file out put lalu klik dua kali.

  1. Membaca atau menafsirkan hasil analisis

1)      Hasil analisis iteman terdiri dari item statistic dan alternative statistic.

2)      Hasil lain analisis iteman adalah data – data statistic yang diperoleh dari pemasukan data.

  1. Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Afektif

Analisis instrument penilaian afektif juga sama seperti halnya instrument penilaian kognitif dan psikomotor, dalam arti dapat dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif (analisis empiric). Perlu diketahui bahwa tidak semua mata pelajaran dievaluasi aspek psikomotornya kalau memang dalam mata pelajaran yang bersangkutan tidak ada muatan kemampuan psikomotornya. Cara melakukan analisis secara kualitatif untuk instrument penilaian psikomotor ini sama dengan analisis instrument penilaian kognitif.

  1. Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Psikomotorik

Analisis instrument hasil belajar psikomotor juga dapat dianalisis secarateoritik atau analisis kualitatif dan analisis secara kuantitatif.

Prosedur Standar Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar bidang Psikomotor

 

Prosedur standar pengembangan instrumen pada bidang psikomotor pada hakikatnya hampir sama dengan bidang kognitif. Prosedur standar tersebut  yaitu (1) Identifikasi Tujuan dan Kawasan Ukur (2) Mengkaji secara teoretik dan praktik performansi maksimal yang diharapkan (3) Menentukan indikator-indikator penilaian,  (4) menjabarkan indikator-indikator penilaian menjadi instrumen penilaian yang terdiri dari lembar penilaian dan rubric (5) Uji keterbacaan instrumen oleh pengguna, (6) uji coba pengadministrasian, dan (7) analisis data untuk mengetahui indeks validitas dan reliabilitas data.

Identifikasi tujuan merupakan aspek penting dalam penyusunan suatu instrument pengukuran dan penilaian. Tujuan dirumuskan berdasarkan maksud untuk apa instrument tersebut disusun. Suatu instrument yang dimaksudkan untuk keperluan seleksi akan berbeda dengan instrument untuk keperluan pencapaian hasil belajar.

Mengkaji secara teoretik dan praktik performansi maksimal yang diharapkan merupakan langkah kedua yang penting dalam penyusunan instrumen bidang psikomotor. Pada tahap ini, berbagai teori yang berkaitan dengan trait psikologis yang sedang dikembangkan instrumennya dikaji. Dengan cara ini validitas konstruk instrument akan terpenuhi.

Langkah ketiga dalam pengembangan instrumen pengukuran dan penilaian bidang psikomotor adalah merumuskan indikator-indikator penilaian. Indikator-indikator ini disusun berdasarkan analisis trait atau  atribut psikologis yang sedang dikembangkan instrumennya.

Langkah selanjutnya adalah menjabarkan indicator-indikator penilaian menjadi instrument penilaian yang terdiri dari lembar penilaian dan rubric. Lembar penilaian berisi aspek-aspek yang dinilai dan skala ukur. Sedangkan rubric berisi tentang pedoman pemberian sekor khususnya pada hal-hal yang bersifat subyektif.

Uji keterbacaan instrumen dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas fungsi aspek-aspek penilaian dan kalimat-kalimat yang dipakai. Hal ini penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kesalahan persepsi penilaia terhadap apa yang dinilaianya.

Uji coba pengadministrasian adalah suatu uji coba untuk menggunakan instrument dalam situasi nyata. Uji coba ini dilakukan pada subjek yang sesuai dengan sasaran penilaian seperti pada  tujuan penilaian.

Analisis data merupakan langkah terakhir dari pengembangan instrument. Melalui analisis data tersebut dapat diketahui kehandalan dan validitas instrument yang sedang diukur.

Syarat-Syarat Instrumen Penilaian yang Baik

Instrumen pengukuran yang baik adalah istrumen yang didesain secara hati-hati dan dievaluasi secara empirik untuk memastikan keakuratan dan infromasi penggunaannya.[9] Menurut pendapat ini, instrumen yang baik harus melalui dua tahapan. Tahapan pertama adalah tahap desain yang terdiri dari empat criteria, yaitu (1) tujuan didefinisikan secara jelas, (2) materi yang standard an spesifik, (3) prosedur pengadministrasian yang terstandarisasi, dan (4) aturan pensekoran. Tahapan kedua adalah tahap evaluasi yang berupa tahap pengumpulan data dan analisis data yang kemudian data tersebut dipergunakan untuk mengidentifikasi psychometric property, yang ditunjukkan dengan analisis respon terhadap item-item tes. Dua hal penting dalam psychometric propertys adalah reliability dan validity.

Konsep reliabilitas mengandung ide pokok seberapa jauh hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.[10]  Istilah lain dari reliabilitas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi. Instrumen dikatakan reliable jika membuahkan hasil yang akurat dan stabil.

Reliabilitas alat ukur berkiatan erat dengan masalah kesalahan pengukuran (error of measurement), yaitu menunjuk pada seberapa jauh inkonsistensi hasil pengukuran terjadi apabila pengukuran dilakukan ulang pada kelompok subjek yang sama.

Konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas hasil ukur erat berkiatan dengan kesalahan dalam pengambilan sampel (sampling error) yang mengacu pada inkonsistensi hasil ukur apabila pengukuran dilakukan ulang pada kelompok individu  yang berbeda. Tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh angka indeks yang disebut koefisien reliabilitas. Secara teoretik besarnya koefisien berkisar muali 0,0 sampai dengan 1,0.  Koefisien reliabilitas dikatakan tinggi apabila indeksnya 0,9 atau lebih, sedang = 0,8 sampai dengan 0,9 dan rendah di bawah 0,8.[11]

Ada beberapa tipe analisis reliabilitas yang dikenal, yaitu:       (1) test-retest, (2) bentuk Paralel, (3) Konsistensi Internal, (4) Skor Komposit, (5) Skor Perbedaan, dan (6) Hasil Rating (Azwar, 2000: 55-125).

Test-retest (tes ulang) adalah suatu pendekatan untuk mengetahui indeks reliabilitas dengan jalan menyajikan instrumen kepada kelompok subjek yang sama sebanyak dua kali dengan memberikan tenggang waktu tertetnu di antara kedua penyajian tersebut. Skor yang diperoleh dari kedua penyajian tersebut kemudian dikorelasikan dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson untuk memperoleh indeks reliabilitas tes yang diinginkan.

Bentuk Paralel adalah suatu pendekatan untuk mengetahui indeks reliabilitas dengan jalan menyajikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain kepada sekelompok subjek. Dalam pelaksanaannya kedua perangkat tes tersebut bisa digabungkan terlebih dahulu baru kemudian dipisahkan lagi pada waktu melakukan skoring. Skor yang diperoleh dari kedua perangkat tes tersebut kemudian dikorelasikan dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson untuk mendapatkan indeks reliabilitas.

Estimasi reliabilitas konsistensi internal dilakukan dengan cara menyajikan instrumen kepada kelompok individu sebagai subjek sebanyak sekali. Respon yang diperoleh dari pengerjaan instrumen tersebut kemudian diolah dengan teknik pembelahan tes. Di dalam pembalahan tes selalu diupayakan  agar setiap belahan tes homogen sehingga jumlah item, taraf kesukaran, dan isi sebanding dan memenuhi ciri-ciri paralelisme. Banyak formula yang bisa digunakan untuk mengestimasi reliabilitas instrumen dengan teknik pembelahan tes tersebut, yaitu: Formula Spearman Brown, Rulon, Flanagan; Guttman, Mossier, Feldt, Horst, Cronbach’s Alpha, Kuder Richardson, Kristof, dan Analisis Varians.[12]

Reliabilitas skor komposit diberlakukan apabila skor subjek pada tes tidak berasal dari satu sumber saja, melainkan gabungan dari beberapa skor. Skor gabungan tersebut bisa berasal dari komponen atau sub tesnya, atau dari tes yang lain. Setiap bagian tes mempunyai  bobot masing-masing yang ditunjukkan dengan seberapa besar sumbangannya terhadap skor akhir.

Reliabilitas skor perbedaan diberlakukan apabila skor subjek pada suatu tes merupakan selisih antara skor dua komponen yang membentuk tes itu (Azwar, 2000: 103). Pada kasus ini terlebih dahulu dicari indeks reliabilitas untuk setiap komponen serta indeks korelasi diantara kedua komponen tersebut, baru setelah itu bisa dicari indeks reliabilitas skor perbedaan.

Reliabilitas hasil rating diberlakukan pada kasus-kasus dimana skor yang diperoleh merupakan judgment subjektif terhadap aspek atau atribut tertentu yang dilakukan melalui  pengamtan sistematis secara langsung atau tidak langsung (Azwar, 2000: 105). Ada dua cara yang bisa ditempuh untuk mengestimasi reliabilitas hasil rating, yaitu: pertama, dengan memberikan rating ulang pada atribut yang sama, kemudian hasil dari kedua rating tersebut dikorelasikan  dengan teknik rank-order correlation. Kedua, pemberian rating yang dilakukan sekaligus oleh beberapa orang raters yang berbeda dan independen satu dengan yang lain. Cara kedua ini sering banyak dipergunakan  dengan alasan lebih praktis serta menghindari faktor ingatan dari rater.

Validitas mengandung konsep pengertian sejuahmana tes mempu mengukur atribut yang seharusnya diukur.[13] Berdasarkan pengertian ini validitas instrumen berkaitan erat dengan rumusan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Suatu instrumen dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila mampu menjalankan fungsinya sehingga menghasilkan data yang sesuai dengan tujuan dilakukannya pengukuran/penilaian. Di samping itu instrumen dikatakan valid apabila mampu memberikan gambaran perbedaan sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan yang lainnya.

Ada tiga tipe validitas, yaitu (1) content validity (validitas isi)    (2) construct validity (validitas konstruk), dan (3) criterian-related validity (validitas berdasar criteria.[14] Validitas isi adalah tipe validitas yang diestimasi melalui analisis rasional terhadap isi suatu instrumen pengukuran. Validitas isi tercermin dari sejauh mana butir-butir tes mencerminkan keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur. Estimasi validitas ini tidak melalui perhitungan statistik tetapi melalui judgment subjektif dari para ahli. Validitas isi terbagi menjadi dua macam, yaitu validitas muka dan validitas logic. Validitas muka diperoleh apabila suatu instrumen mengukur trait yang relevan, artinya butir-butir tes/skala tersebut tidak menyimpang dari tujuan dilakukannya pengukuran. Validitas logik atau validitas sampling mencakup definisi yang cermat dari domain perilaku yang akan diukur dengan tes/skala dan desain logis dari item/butir instrumen untuk mencakup keseluruhan kawasan domain yang diukur.

Validitas konstruk adalah tipe validitas yang ditunjukkan dengan sejauhmana tes/skala mengungkap suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya.[15] Untuk memperoleh validitas konstruk harus didahului analisis teoretik terhadap atribut yang hendak digali informasinya.

Validitas berdasarkan kriteria adalah validitas yang diperoleh dengan jalan mengkorelasikan skor tes dengan suatu kriteria tertentu. Kriteria yang dimaksudkan di sini adalah variabel perilaku yang akan dipresiksikan atau ukuran lain yang relevan. Berdasarkan pengertian ini prosedur validasi yang dipergunakan ada dua macam yaitu dengan cara mengkorelasikan skor tes/sekala dengan skor tes/sekala lain yang relevan yang datanya bisa diperoleh secara bersamaan, biasa disebut concurrent validity, dan mengkorelasikan skor tes/sekala dengan skor tes/sekala yang diprediksikan pada waktu yang akan datang yang biasa disebut dengan prediktive validity.

Validitas prediktif instrumen merupakan salah satu tipe validitas yang penting dalam suatu sistem seleksi. Suatu instrumen yang baik dapat dengan cermat memprediksikan performansi calon siswa/mahasiswa di kemudian hari. Tinggi rendahnya validitas prediktif instrumen diwujudkan dalam suatu indeks validitas prediktif yang tingginya berkisar antara 0,0 sampai dengan 1,0.

Ada beberapa faktor yang mempengerahui tinggi rendahnya indeks validitas prediktif dalam suatu sistem seleksi. Di antaranya adalah akibat terjadinya (1) restriksi sebaran, dan (2) rendahnya indeks reliabilitas instrumen prediktor maupun kreteriumnya.

Restriksi sebaran adalah terjadinya penyempitan distribusi skor yang diakibatkan oleh semakin sedikitnya  anggota populasi yang diamati. Hal ini disebabkan karena tidak semua peserta yang terlibat dalam suatu sistem seleksi diterima. Akibatnya populasi menjadi lebih homogen (varians skor menjadi kecil). Akibat selanjutnya indeks validitas predektif menjadi rendah.

Tinggi rendahnya indeks validitas prediktif juga dipengaruhi oleh rendahnya indeks kehandalan instrumen baik pada variabel prediktor maupun kriterium. Suatu instrumen sesungguhnya mempunyai indeks validitas yang lebih tinggi dari pada validitas murni yang diperoleh pada keadaan indeks kehandalan salah satu atau kedua instrumen (prediktor dan atau kriterium) rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Sukiman, S. Ag., M. Pd. 2008.Pengembangan sistem Evaluasi PAI. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Prof. H. M. Sukardi, MS., Ph.d. 2009. Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Drs. M. Ngalim Purwanto,M. P. 2008. Prinsip – Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Prof. Dr. Anas Sudijono. 2006. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

eprints.uny.ac.id/874/2/Bab_2.rtf

http://intranet,cps.k12.ibus/Assessment/Ideas and Rubric/Why We Need Reliable and Valid Assessment.html


[1] Nurgiyantoro. Dkk. 2005.

[2] Arikunto. 1977.

[3] Sukiman. 2008.

[4] Arikunto. 1997.

[5] Sudjiono. 1996, Arikunto. 1997.

[6] Sukiman. 2008.

[7] Sukiman.2008.

[8] Azwar. 1997.

[9] Freidenberg, 1995: 11.

[10] Azwar, 2000:4; Sugiyono, 1997:267.

[11] Larson dan Yokom, 1951: 191.

[12] Freidenberg, 1995: 193-204; Allen and Yen, 1970: 78-88; Azwar, 2000: 68-98; Naga, 1992: 134-152.

[13] diambil dari http://intranet,cps.k12.ibus/Assessment/Ideas and Rubric/Why We Need Reliable and Valid Assessment.html.

[14] Allen and Yen, 1979:95; Freidenberg, 1995:220-221.

[15] Allen and Yen, 1979: 108.