Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Belajar

ANALISIS KUALITAS INSTRUMEN EVALUASI HASIL BELAJAR

 

Makalah  Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Pengembagan Evaluasi Pendidikan

Dosen Pengampu: Hendro Widodo M. Pd

Disusun oleh :

Nurmawati Restianingsih

10410114

34

IV (PAI F)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Instrumen evaluasi dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu instrumen evaluasi hasil belajar kognitif, instrumen evaluasi hasil belajar afektif, dan instrumen evaluasi hasil belajar psikomotor. Instrumen evaluasi hasil belajar tersebut perlu dianalisis sebelum dan sesudah digunakan, yang bertujuan agar dapat dihasilkan instrumen evaluasi yang memiliki kualitas tinggi.

Tujuan dari analisis kualitas instrument evaluasi hasil belajar ini adalah untuk mengetahui seperti apa kualitas dari masing masing instrument tersebut, apakah instrument tersebut telah layak dipakai. Atau apakah instrument tersebut sudah sesuaideengan syarat syarat instrument hasil belajar.  Dalam analisis ini dilihat dari hasil tes yang telah dilakukan. Tes dari masing masing ranah akan dilihat hasilnya untuk menentukan kualitas dari instrument evaluasi hasil belajar tersebut.

Selain itu pelaksanaan analisis kualitas instrument juga ditentukan waktunya. Analisis instrument bisa dilaksanakan atau dilakukan sebelum maupun sesudah dilaksanakan uji coba. Cara analisis instrument yang telah disusun adalah dengan cara dilihatkesesuaiannya dengankopetensi dasar dan indikator yang di ukur serta pemenuhan persyaratan baik dari ranah materi , konstruksi dan bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN

Instrument evaluasi dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu instrumen evaluasi hasil belajar kognitif, instrumen evaluasi hasil belajar efektif, instrumen evaluasi hasil belajar psikomotor. Instrumen evaluasi untuk ketiga hasil belajar tersebut perlu dianalisis sebelum dan sesudah digunakan yang tujuannya agar dapat dihasilkan instrument evaluasi yang memiliki kualitas tinggi. Pada uraian berikut akan dibahas teknik analisis kualitas instrument secara berurutan mulai kualitas instrument evaluasi hasil belajar koknitif, instrument evaluasi hasil belajar afektif dan instrument hasil belajar psikomotor.

  1. Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Kognitif

Pada umumnya hasil belajar kognitif dinilai dengan tes. Tes dalam bentuk butir – butir soal sebelum digunakan hendaknya dianalisis terlebih dahulu agar memenuhi syarat sebagai alat evaluasi yang memiliki kualitas tinggi.

Cara menganalisis butir – butir tes tersebut dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu:

  1. Analisis Tes Secara Teoritik Atau Analisis Kualitatif

Analisis secara teoritis atau analisis kualitatif dapat dilakukan sebelum maupun setelah dilaksanakan uji coba. Cara analisisnya adalah dengan cara mencermati butir – butir soal yang telah disusun dilihat dari: kesesuaian dengan kompetensi dasar dan indikator yang diukur serta pemenuhan persyaratan baik dari ranah materi, konstruksi dan bahasa. Butir – butir soal yang akan di analisis dapat berupa butir soal bentuk uraian, butir soal bentuk melengkapi,dan butir soal bentuk pilihan ganda (multiple choice).

  1. Analisis Tes Secara Kuantitatif

Analisis ter secara kuantitatif diarahkan untuk menelaah tingkat validitas soal, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, dan khusus untuk model atau tipe soal pilihan ganda perlu juga ditelaah efektifitas fungsi distraktor.

a)      Analisis validitas tes

Validitas (validity, kesahihan) berkaitan dengan permasalahan apakah tes yang dimaksudkan untuk mengukur sesuatu itu memang dapat mengukur secara tepat sesuatu yang akan dikur tersebut.[1] Secara singkat dapat dikatakan bahwa validitas tes mempersoalkan apakah tes itu dapat mengukur apa yang akan diukur. Misalnya, jika tes itu dimaksudkan untuk mengukur tingkat kognitif atau ingatan tentang macam – macam rukun iman, memang secara tepat dapat untuk mengukur kemampuan itu, bukan pengetahuan yang lain, misalnya penjelasan tentang pengertian iman. Jika tes itu dimaksudkan untuk menanyakan kemampuan menganalisis sebab – sebab suatu kaum diberi azab oleh Allah (kognitif tingkat analisis), tes itu memang mampu untuk mengungkapkan kemampuan itu, dan bukan kemampuan – kemampuan yang lain yang menyebabkan bias.

Analisia validitas tes dapat dilakukan dari dua segi, yaitu: dari segi tes sebagai suatu totalitas dan dari segi itemnya, sebagai bagian tak terpisahkan dari tes secara totalitas. Macam – macam analisis validitas tes dapat digambarkan sebagai berikut:

Validitas Isi

(Content Validity)

Validitas Teoritis

(Rasional)                     Validitas Konstruk

(Construct Validity)

Tes Totalitas                                              Validitas Ramalan

(Predictive Validity)

Validitas Tes                                   Validitas Empirik

Validitas Bandingan

Butir Soal                                                          (Concurrent Validity)

1)      Analisis validitas tes secara totalitas

Analisis validitas tes secara totalitas maksudnya adalah analisis validitas tes secara keseluruhan. Missal tes terdiri dari 50 butir soal, sehingga yang dianalisis adalah keseluruhan dari 50 butir soal tersebut. Analisis validitas tes secara totalitas secara garis besar dapat dibedakan kadalam dua kategori, yaitu validitas teoritis (rasional) dan validitas empirik. Validitas teoritis (rasional) adalah validitas yang dalam pertimbangannya dilakukan dengan cara analisis rasional, sedangkan validitas empiric adalah validitas yang dalam pertimbangannya dilakukan dengan cara menganalisis data data empirik. Artinya untuk melakukan analisis jenis validitas empiric memerlukan data – data dari lapangan yang merupakan hasil dari uji coba yang berwujud data kuantitatif dan untuk keperluan analisis validitas itu diperlukan jasa statistik.

Jenis validitas yang termasuk kategori dalam validitas teoritis (rasional) adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk (construct validity), sedangkan yang termasuk kategori dalam validitas empirik adalah validitas bandingan (concurrent validity) dan validitas ramalan (predictive validity)

  1. Validitas teoritis (rasional)
    1. Validitas isi

Validitas isi adalah validitas yang mempertannyakan bagaimana kesesuaian antara butir – butir soal dalam tes dengan deskripsi bahan yang diajarkan. Jadi sebuah soal dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi ini sering juga disebut validitas kurikuler.[2]

Validitas isi dapat diusahakan terciptanya sejak saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran. Dalam menganalisisnya dilakukan dengan menggunakan analisis rasional. Cara yang bisa ditempuh dalam penyusunan tes adalah dengan menyusun kisi – kisi soal. Setelah kisi – kisi disusun, penulisan butir soal haruslah bardasarkan kisi – kisi yang telah disusun tersebut. Pada kisi – kisi itu paling tidak harus terdapat aspek kompetensi dasar, bahan atau diskripsi bahan, indikator, dan jumlah pertannyaan perindikator. Sebelum kisi – kisi dijadikan pedoman dalam penyusunan butir – butir soal, terlebih dahulu haruslah ditelaah dan dinyatakan baik. Setelah butir – butir pertannyaan disusun, maka butir – butir pertanyaan juga harus ditelaah dengan menggunakan kriteri tertentu disamping disesuaikan dengan kisi – kisi. Penelaahan harus dilakukan oleh orang yang berkompeten dalam bidang yang bersangkutan, atau yang dikenal dengan istilah penilaian oleh ahlinya (exoert judgement).

  1. Validitas konstruk

Validitas konstruk mempertanyakan apakah butir – butir soal dalam tes itu telah sesuai dengan tingkatan kompetensi atau ranah yang ada yang sesuai dengan tuntutan dalam kurikulum. [3]

Analisis validitas konstruk, suatu tes dapat dilakukan dengan cara melakukan pencocokan antara kemampuan berfikir yang tercantum dalam setiap rumusan indikator yang akan diukur. Dengan demikian kegiatan analisis validitas konstruk ini dilakukan secara rasional, dengan berfikir kritis atau menggunakan logika. Disamping itu, sebagaimana halnya, dalam validitas isi, cara analisis dapat pula dilakukan dengan melakukan diskusi dengan orang yang ahli di bidang yang bersangkutan.dengan kata lain uji validitas konstruk dilakukan dengan cara expert judgement.

Uji validitas konstruk juga bisa dilakukan lewat program computer, yaitu dengan menggunakan analisis faktor. Jika cara ini yang dipakai, uji faliditas tersebut harus berdasarkan data – data empiric. Hal ini berarti alat tes tersebut harus diuji cobakan terlebih dahulu, dan data – data hasil uji coba itulah yang kemudian dianalisis dengan computer.

  1. Validitas empirik
    1. Validitas ramalan

Meramal artinya memprediksikan mengenai suatu hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang, yang saat ini belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas ramalan atau prediksi apabila memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.[4]

Analisis validitas ramalan tes tersebut dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara nilai tes tersebut dengan kriteri atau tolok ukur, misalnya, tes masuk ujian SLTA. Tes ujian masuk SLTA memiliki validitas ramalan yang baik jika memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah antara tes yang sedang duselidiki atau di uji validitasnya, dengan criteria yang ada. Dengan kata lain terdapat hubungan searah yang sangat erat antara tes yang sedang di uji validitasnya dengan criteria yang telah ditentukan. Karena nilai – nilai tes hasil ujian seleksi itu berjalan searah atau sejajar dengan nilai – nilai tes hasil belajar di SLTA, maka hubungan antara kedua variable tersebut adalah termasuk kedalam kategori hubungan searah, yang dalam ilmu statistic dikenal dengan istilah korelasi positif.

Cara yang biasa digunakan untuk mencari dalam rangka ujian validitas ramalan ini adalah dengan menggunaka teknik analisis korelasional product moment dari Karl Pearson.[5]

Prosedur untuk melakukan uji validitas tes adalah sebagai berikut:

(1)   Melakukan komputasi atau perhitungan metematis untuk mencari harga koefisien r Product Moment dengan rumus:

Adapun langkah langkah perhitungannya adalah:

(a)    Menyiapkan table perhitungan untuk mencari nilai 𝜮Y, 𝜮Y, ,  , dan 𝜮𝜲Y.

(b)   Menghitung harga r Product Moment dengan rumus:

(2)   Memberikan interprestasi terhadap harga koefisien product moment.

Ada dua cara dalam interprestasi ini, yaitu:

  1. Melihat harga r hitung den kemudian dikonsultasikan dengan patokan berikut:

Nilai r

Kategori

0,80 – 1,00

0,60 – 0,79

0,40 – 0,39

0,20 – 0,38

0,00 – 0,19

Sangat Tinggi

Tinggi

Cukup

Rendah

Sangat Rendah

  1. Memilih harga r hitung dan kemudian di konsultasikan dengan harga r tabel Product Moment dengan criteria apabila harga r hitung sama dengan atau lebih besar dengan harga r tabel berarti ada korelasi antara variabel X dengan variabel Y yang berarti tes yang kita analisis memiliki validitas. Untuk melihat harga r tabel perlu dicari terlebih dahulu derajat kebabasan (degree of freedom) atau singkatan df dengan rumus: df= N – nr, dimana N adalah banyaknya peserta tes (testee) dan nr adalah banyaknya variabel yang dikorelasikan.
  2. Validitas bandingan

Validitas bandingan disebut juga dengan istilah validitas sama saat, validitas ada sekarang atau validitas pengalaman. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas pengalaman jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Dalam hal ini hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu berdasarkan pada hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent).[6]

Dalam rangka menguji validitas pengalaman atau bandingan, data hasil tes yang diperoleh sekarang kita bandingkan dengan data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh masa lampau itu. Jika hasil tes sekarang mempunyai hubungan searah dengan hasil tes berdasarkan pengalaman yang lalu, maka tes tersebut dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan atau pengalaman.

Cara melakukan analisis validitas bandingan atau pengamalan ini adalah sama seperti pada analisis validitas ramalan yaitu dengan mengorelasikan hasil yang sekarang dengan hasil tes yang terdahulu. Hasil tes yang sekarang menjadi variable X dan hasil tes yang dahulu menjadi variable Y. teknik hasil uji korelasinya juga menggunakan hasil korelasi product moment.

2)      Analisis Validitas Butir Soal

Yang dimaksud dengan validitas butir soal adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir soal, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas, dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir soal tersebut.[7]

Cara untuk menganalisis adalah dengan mengkorelasikan antara skor tiap – tiap soal yang dicapai oleh masing – masing testee dengan skor total. Sebutir soal dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid jika skor – skor pada butir soal yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah dengan skor total atau dengan bahasa statistik ada korelasi positif yang signifikan antara skor butir soal dengan skor totalnya. Skor total disini berkedudukan sebagai variable terikat (dependent variable) sedangkan skor butir soal berkedudukan sebagai variable bebasnya (independent variable). Jika demikian, maka untuk sampai pada kesimpulan bahwa butir – butir soal yang ingin diketahui validitasnya, yaitu valid ataukah tidak, kita dapat menggunakan teknik korelasi sebagai teknik analisisnya. Sebutir soal dapat dikatakan valid apabila skor butir soal yang bersangkutan terbukti mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan skor totalnya.

Teknik korelasi yang dipandang tepat untuk digunakan dalam analisis validitas butir soal ini adalah dengan rumus korelasi Point Bisserial. Hal ini melihat karena jenis data yang akan dianalisis adalah data diskret murni atau data dikhotomik dan data kontinyu.

Indeks korelasi Point Bisserial dibrti lambing , rumus korelasinya adalah sebagai berikut:

Keterangan:

: koefisien korelasi point bisserial yang melambangkan kekuatan korelasi antara variabel I dengan variabel II, yang dalam hal ini dianggap sebagai koefisien validitas butir soal.

: skor rata – rata hitung yang dimiliki testee, untuk butir soal yang bersangkutan telah dijawab dengan betul.

: skor rata – rata dari skor total.

: deviasi standar dari skor total.

: proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir soal yang di analisis validitasnya.

: proporsi testee yang menjawab salah terhadap butir soal yang di analisis validitasnya.

Langkah – langkah untuk melakukan analisis validitas butir soal adalah sebagai berikut:

(1)   Menyiapkan tabel perhitungan korelasi poin bisserial.

(2)   Mencari mean atau rata – rata hitung deri skor total ( dengan rumus:

(3)   Mencari deviasi standar total (, dengan rumus:

(4)   Mencari atau menghitung untuk butir soal yang dianalisis validitasnya.

(5)   Menghitung korelasi point bisserialnya ().

(6)   Member interprestasi. Untuk memberikan interprestasi kida dapat berkonsultasi dengan harga r tabel Product Moment dengan terlebih dahulu mencari df (derajad kebebasan), yaitu dengan cara df = N – nr.

b)      Analisis reliabilitas tes

Salah satu syarat tes sebagai salah satu instrumen evaluasi adalah memiliki reliabilitas yang tinggi. Tes yang memiliki reliable reabilitas tes atau keajegan, ketetapan berhungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes akan menghasilkan kepercayaan yang tiggi apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Jika hasilnya berubah – ubah, perubahan yeng terjadi dapat dikatakan tidak berarti.

Hubungan validitas dengan reliabilitas dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Validitas itu penting, sedangkan reliabilitas itu perlu, karena reliabilitas itu menyokong validitas.
  • Tes yang valid umumnya reliabel, tetapi tes yang reliabel belum tentu valid.

Untuk memper oleh tes yang memiliki reliabilitas (keajegan) itu memang tidak mudah, karena unsure kejiwaan manusia sendiri yang menjadi objek pengukuran tidak ajeg. Misalnya: kemampuan hasil belajar, kecakapan, sikap dan sebagainya itu semua bisa berubah ubah dari waktu ke waktu.

Hal hal yang mempengaruhi reliabilitas hasil tes:

  • Hal – hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, seperti panjang tes dan kualitas butir – butir tes. Semakin panjang dan semakin baik kualitasnya maka akan semakin tinggi tingkat reliabilitasnya.
  • Hal – hal yang berkaitan dengan testee (peserta tes). Tes yang dikenakan kepada kelompok yang tidak terpilih atau ditentukan secara acak biasanya reliabilitasnya lebih besar dibandingan yang dikenakan kepada kelompok testee yang terpilih seperti pada kelompok anak yang pandai – pandai saja.

v  Jenis Analisis Reliabilitas Tes

  1. Analisis reliabilitas tes bentuk uraian (essay)

Analisis reliabilitas tes bentuk uraian umumnya menggunakan rumus Alpha dari Cronbach, karena model scoring soal bentuk uraian ini bukan model dikotomik, kalau benar bernilai satu dan jika salah bernilai 0, tetapi sekoringnya lebih bersifat kontinum (rentangan angka, misalnya 0 – 5 atau 0 – 10, dan sebagainya).

Adapun rumus Alphanya adalah:

Keterangan:

: koefisien reliabilitas tes.

: banyaknya butir soal yang dikeluarkan dalam tes.

1          : bilangan kostan (menjadi kesepakatan)

: jumlah varian skor dari tiap tiap butir soal.

: Varian total

Langkah – langkah untuk melakukan analisis:

1)      Menjumlahkan masing – masing soal yang dicapai semua testee () dan mencari skor total yang dicapai masing – masing testee () dan mengkuadratkan skor skor total tersebut ().

2)      Menghitung jumlah kuadrat skor masing – masing butir soal (disingkat  atau ).

3)      Menghitung varian dari masing – masing butir soal (item).

4)      Menghitung jumlah varian skor butir soal secara keseluruhan.

5)      Menghitung varian total () dengan rumus:

6)      Menghitung koefisien reliabilitas tes dengan menggunakan rumus Alpha di atas.

7)      Memberikan interpretasi terhadap harga koefisien reabilitas tes, dengan menggunakan patokan sebagai berikut:

  1. Apabila  sama dengan atau lebih besar dari 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliable).
  2. Apabila  lebih kecil dari pada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji raliabilitasnya dinyatakan belim memiliki reliabilitas yang tinggi (unreliable).
  1. Analisis reliabilitas tes bentuk objektif

Penentuan reliabilitas tes bentuk objektif dapat dilakukan melalui salah satu dari pendekatan, yaitu pendekatan tes ulang (tes – retest), pendekatan tes sejajar (alternate – forms), dan pendekatan konsisten internal (internal consistency).

  1. Pendekatan tes ulang

Pendekatan ini menunjukkan konsistensi pengukuran dari waktu ke waktu dan menghasilkan koefisien reliabilitas yang sering disebut sebagai koefisien stabilitas. Prinsip penentuan reliabilitas tes dengan mengenakan satu buah tes yang dilakukan dua kali dengan tenggang waktu tertentu, terhadap sekelompok subjek yang sama.[8] Pndktan ini jga disebut dengan istilah single test – double trial method.

Penentuan koefisien reliabilitas pada pendekatan ini dilakukan dengan jalan mengorelasikan skor hasil pelaksanaan tes pertama dengan skor hasil pelaksanaan tes yang kedua. Teknik korelasi yang dapat digunakan adalah teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson.

Kelemahan pendekatan tes ulang adalah kurang praktisnya pengenaan tes dua kali dan besarnya kemungkinan terbawa efek bawaan (carry – effects) dari satu pengenaan tes ke pengenaan yang kedua.

  1. Pendekatan tes sejajar

Pendekatan tes sejajar hanya dapat dilakukan apabila tersedia dua bentuk tes yang dapat dianggap memenuhi asumsi parallel. Salah satu indikator terpenuhinya asumsi parallel adalah setaranya korelasi antara skor kedua instrumen tersebut dengan skor suatu ukuran lain.

Tentu saja untuk mendapatkan paralel kedua bentuk instrument harus disusun dengan tujuan mengukur objek psikologis yang sama, berdasarkan blue print (pola rancangan) yang sama serta spesifikasi yang sama pula.

Penentu koefisien reliabilitas pada pendekatan ini sama seperti pada pendekatan tes ulang, yaitu dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor hasil tes pertama dengan skor hasil tes yang kedua. Teknik korelasi yang dapat digunakan adalah teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson.

Kelemahan utama pada pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua alat ukur yang memenuhi persyaratan paralel atau sejajar. Di samping itu pendekatan ini juga tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan terjadinya efek bawaan.

  1. Pendekatan konsistensi internal

Estimasi reliabilitas dengan pendekatan konsistensi internal didasarkan pada data sekali penggunaan satu bentuk tes pada sekelompok subjek (single trial administration).

Penentuan koefisiensi reliabilitas dilakukan setelah keseluruhan instrumen yang telah dikenakan pada subjek itu dibagi menjadi beberapa bagian. Suatu instrumen dapat dibagi menjadi dua, tiga, atau empat bagian dan bahkan dapat dibagi menjadi sebanyak jumlah item – itemnya. Bentuk dan sifat alat ukur serta banyaknya bagian yang dibuat akan menentukan teknik perhitungan koefisien reliabilitasnya.

  1. Analisis reliabilitas tes dengan menggunakan computer (program SPSS)

Langkah – langkah analisis dengan program SPSS adalah sebagai berikut:

  1. Membuka program SPSS dengan langkah: klik start, klik program, klik SPSS 11.5 for windows.
  2. Memasukkan data (in put data) pada kolom – kolom yang tersedia dengan mengetikkannya satu persatu, atau di copy paste lewat data yang telah masuk dalam program excel.
  3. Menghitung koefisiensi reliabilitas dengan langkah: klik analyze, klik scale, dan kli reability analysis. Maka akan muncul suatu lembar kerja, lalu pindahkan variable yang akan di analisis dari kolom di sebelah kiri dan kolom sebelah kanan dengan mengklik tanda panah kecil. Selanjutnya pilih formula yang tepat sesuai dengan jenis data kita, formula Alpha dan terakhir klik ok.
  4. Maka kemudian akan muncul hasil dari koefisien relianilitas.
  5. Memberikan inspretasi dengan cara yang sama dengan menggunakan hitungan manual yaitu dikatakan telah reliabel jika hasil hitungannya sama dengan atau lebih besar dari 0,70. Hasil hitungan tersebut diperoleh dari koefisien reliabilitas Alpha sebesar 0,3405 dan berada di bawah 0,70. Maka dapat disimpulkan bahwa tes tersebut belum reliabilitas.

c)      Analisis tingkat kesukaran soal

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini biasanya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 – 1,00. Semakin besar indeks tingkat kesukaranyang diperoleh dari hasil perhitungan, maka semakin mudah soal itu. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor butir soal. Pada prinsipnya skor rata – rata yang diperoleh testee pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal.

Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya dikaitkan dengan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang. Sedangkan untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi atau sukar, dan untuk keperluan diagnosis biasanya biasanya dipergunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah atau mudah.

Rumus yang dipergunakan untuk menganalisis tingakat kesukaran soal objektif adalah sebagai berikut:

ITK = indeks tingkat kesukaran soal

B = banyaknya siswa yang menjawab bwnar butir soal

N = banyak siswa yang mengikuti tes

Langkah – langkah analisisnya:

  1. Menjumlah skor masing – masing butir soal yang dicapai oleh semua
  2. Menghitung indeks tingkat kesukaran butir soal,dengan rumus:

TK

  1. Memberikan interprestasi terhadap hasil perhutungan. Cara memberikan inter prestasi adalah dengan mengkonsultasikan hasil perhitungan indeks tingkat kesukaran tersebut dengan suatu oatokan  atau criteria sebagai berikut:

Indeks Tingkat Kesukaran

Kategori

0,00 – 0,30

0,31 – 0,70

0,71 – 1,00

Soal tergolong sukar

Soal tergolong sedang

Soal tergolong mudah

Sedangkan untuk menghitung tingkat kesukaran soal bentuk uraian dengan rumus berikut ini:

Tindak lanjut dari hasil analisis tinggkat kesukaran butir soal ini adalah sebagai berikut:

(a)    Mencatat butir soal yang sudah baik (memiliki TK= cukup) dalam buku bank soal.

(b)   Bagi soal yang terlalu sukar ada tiga kemungkinan, yaitu: didrop atau dibuang atau diteliti ulang dimana letak yang membuat soal tersebut terlalu sukar.

(c)    Untuk butir yang terlalu mudah juga ada tiga kemungkinan seperti yang dijelaskan pada point b diatas.

Untuk mengetahui indeks daya pembeda soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

IDP =

Keterangan:

IDP      : indeks daya pembeda soal

BA       : jumlah jawaban benar pada kelompok atas

BB       : jumlah jawaban benar pada kelompok bawah

N         : banyaknya siswa yang mengikuti tes.

d)     Analisis daya pembeda soal

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antra siswa yang mampu/pandai menguasai materi yang ditanyakan dan siswa yang tidak mampu atau kurang pandai belum menguasai materi yang ditanyakan. Daya pembeda soal dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya angka indeks daya pembeda. Indeks daya pembeda ini juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal maka semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan 1,00. Semakin tnggi daya pembeda suatu soal maka semakin kuat atau bail soal itu. Jika daya pembeda negative (<0) erarti lebih banyak kelompok bawah (siswa yang tidak atau kurang mampu) yang menjawab benar soal itu dibandingkan dengan kelompok atas (siswa yang mampu). Indeks daya pembeda soal tersebut dapat digambarkan dalam sebuah garis kontinum.

Untuk mengetahui indeks daya pembeda soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

IDP =

Keterangan:

IDP      : indeks daya pembeda soal

BA       : jumlah jawaban benar pada kelompok atas

BB       : jumlah jawaban benar pada kelompok bawah

N         : banyaknya siswa yang mengikuti tes.

Soal yang tidak baik adalah soal yang ketika digunakan muncul tiga kemungkinan berikut:

  1. Siswa yang pandai dan yang tidak pandai sama – sama menguasai dan sama – sama bisa menjawab dwngan benar;
  2. Siswa yang pandai dan yang tidak pandai sama – sama tidak dapat menjawab dengan benar;
  3. Siswa yang pandai tidak dapat menjawab dengan benar, sebaliknya siswa yang tidak pandai justru dapat menjawab denan benar.

Langkah – langkah analisis:

  1. Menjumlah skor total yang dicapai oleh masing – masing siswa (testee) dan skor total setiap butir soal dengan sekaligus membagi testee menjadi dua kelompok adas dan kelompok bawah.
  2. Membagi para testee menjadi dua kelompok, yaitu kelompok atas (kelompok testee yang memperoleh skor tinggi) dan kelompok bawah (kelompok testee yang memperoleh skor rendah) dan selanjutnya membubuhkan kode pada testee, yang masuk kelompok atas dengan kode A dan testeekolompok bawah dengan kode B. care pembagian kelompok ini ada dua cara:
    1. Untuk jumlah kecil yakni jumlah testee kurang dari 100, caranya adalah seluruh testee dibagi menjadi dua bagian sama besar, 50% untuk kelompok atas dan 50% untuk kelompok bawah. Untuk menentukan siapa saja yang masuk kelompok atas dan yang mauk kelompok bawah terlebih dahulu para testee tersebut diurutkan dari yang memperoleh skor tertinggi hingga skor terendah. Bila jumlah testee ganjil, maka teste yang menduduki urutan tengah dapat diikutkan kelompok atas sekaligus kelompok bawah.
    2. Apabila jumlah testee lebih dari 100 (jumlah besar), maka kelompok atas cukup diambil 27%nya mulai dari testee yang memperoleh skor tertinggi dan di ambil pula kelompok bawah 27% nya juga dan diambil dari testee yang memperoleh skor terendah.
    3.  Menghitung indek daya beda butir soal dengan rumus diatas.
    4. Memberikan interpretasi terhadap hasil perhitungan. Cara member interpretasi adalah dengan cara mengkonsultasikan hasil perhitungan indeks tingkat daya pembeda tersebut dengan suatu patokan atau criteria sebagai berikut:

Indeks Daya Beda

Klasifikasi

Interpretasi

Tanda negative

<0,20

0,20 – 0,39

0,40 – 0,69

0,70 – 1,00

No discrimination

Poor

Satisfactory

Good

excellent

Tidak ada daya beda

Daya beda lemah

Daya beda cukup

Daya beda baik

Daya beda baik sekali

Untuk mengetahui daya beda mengetahui daya beda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

IDP =

Langkah langkah analisis:

1)      Membuat tabel perhitungan untuk menentukan kelompok atas dan kelompok bawah. Untuk menentukan pembagian kelompok ini langsung mkelihat skor masing – masing testee pada butir soal yang dianalisis, jadi tidak perlu melihat skor total yang dicapai masing – masing testee untuk setiap butir.

2)      Menghitung indek daya pembeda dengan terlebih dahulu menghitung mean (rata – rata hitung) kelompok atas (MA) dan kelompok bawah (MB).

e)      Analisis fungsi distraktor

Analisis fungsi distraktor dilakukan khusus untuk soal bentuk objektif model pilihan ganda (multiple choice item). Didalam soal pilihan ganda dilengkapi dengan beberapa alternative jawaban yang disebut dengan option (opsi). Opsi biasa berkisar antara 3 sampai dengan 5 buah. Dari opsi tersebut terdapat salah satu jawaban yang benar dan itu yang disebut dengan kunci jawaban, sedangkan sisanya merupakan jawaban salah yang disebut dengan distraktor (pengecoh).

Analisis distraktor dimaksud untuk mengetahui apakah distraktor tersebut telah berfungsi secara afektif atau tidak.

Suatu distraktor atau pengecoh dapat dikatakan berfungsi efektif apabila:

  1. Paling tidak dipilih oleh 5% peserta tes.
  2. Lebih banyak dipilih oleh kelompok bawah.

f)       Analisis butir soal dengan program computer

Analisis butir soal dengan program koputer dapat dilakukan antara lain dengan  menggunakan program iteman.

Langkah – langkah melakukan program iteman dari pemasukan data ke dalam computer hingga sosialisasi hasil.

  1. Cara pemasukan data
    1. Klik star, program, accessories dan pilih notpad.
    2. Masukkan data ke file.
    3. Simpan hasil pengetikan data dalam satu folder dengan program iteman. Contoh: UIN1, dan keluar dari notepad.
    4. Langkah analisis
      1. Buka program iteman dengan cara buka window exsplore dan cari program iteman dan klik dua kali.
      2. Setelah muncul program microcat testing system dandibawahnya berturut – turut aka nada perintah yang muncul, dan ikutilah.
      3. Setelah semua perintah di ikut I dan selesai serta hasil dapat di lihat, keluar dari program iteman.
      4. Melihat hasil analisis

Bisa melalui program notepad atau lewat windows exsplor dan cari file out put lalu klik dua kali.

  1. Membaca atau menafsirkan hasil analisis

1)      Hasil analisis iteman terdiri dari item statistic dan alternative statistic.

2)      Hasil lain analisis iteman adalah data – data statistic yang diperoleh dari pemasukan data.

  1. Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Afektif

Analisis instrument penilaian afektif juga sama seperti halnya instrument penilaian kognitif dan psikomotor, dalam arti dapat dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif (analisis empiric). Perlu diketahui bahwa tidak semua mata pelajaran dievaluasi aspek psikomotornya kalau memang dalam mata pelajaran yang bersangkutan tidak ada muatan kemampuan psikomotornya. Cara melakukan analisis secara kualitatif untuk instrument penilaian psikomotor ini sama dengan analisis instrument penilaian kognitif.

  1. Analisis Kualitas Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Psikomotorik

Analisis instrument hasil belajar psikomotor juga dapat dianalisis secarateoritik atau analisis kualitatif dan analisis secara kuantitatif.

Prosedur Standar Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar bidang Psikomotor

 

Prosedur standar pengembangan instrumen pada bidang psikomotor pada hakikatnya hampir sama dengan bidang kognitif. Prosedur standar tersebut  yaitu (1) Identifikasi Tujuan dan Kawasan Ukur (2) Mengkaji secara teoretik dan praktik performansi maksimal yang diharapkan (3) Menentukan indikator-indikator penilaian,  (4) menjabarkan indikator-indikator penilaian menjadi instrumen penilaian yang terdiri dari lembar penilaian dan rubric (5) Uji keterbacaan instrumen oleh pengguna, (6) uji coba pengadministrasian, dan (7) analisis data untuk mengetahui indeks validitas dan reliabilitas data.

Identifikasi tujuan merupakan aspek penting dalam penyusunan suatu instrument pengukuran dan penilaian. Tujuan dirumuskan berdasarkan maksud untuk apa instrument tersebut disusun. Suatu instrument yang dimaksudkan untuk keperluan seleksi akan berbeda dengan instrument untuk keperluan pencapaian hasil belajar.

Mengkaji secara teoretik dan praktik performansi maksimal yang diharapkan merupakan langkah kedua yang penting dalam penyusunan instrumen bidang psikomotor. Pada tahap ini, berbagai teori yang berkaitan dengan trait psikologis yang sedang dikembangkan instrumennya dikaji. Dengan cara ini validitas konstruk instrument akan terpenuhi.

Langkah ketiga dalam pengembangan instrumen pengukuran dan penilaian bidang psikomotor adalah merumuskan indikator-indikator penilaian. Indikator-indikator ini disusun berdasarkan analisis trait atau  atribut psikologis yang sedang dikembangkan instrumennya.

Langkah selanjutnya adalah menjabarkan indicator-indikator penilaian menjadi instrument penilaian yang terdiri dari lembar penilaian dan rubric. Lembar penilaian berisi aspek-aspek yang dinilai dan skala ukur. Sedangkan rubric berisi tentang pedoman pemberian sekor khususnya pada hal-hal yang bersifat subyektif.

Uji keterbacaan instrumen dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas fungsi aspek-aspek penilaian dan kalimat-kalimat yang dipakai. Hal ini penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kesalahan persepsi penilaia terhadap apa yang dinilaianya.

Uji coba pengadministrasian adalah suatu uji coba untuk menggunakan instrument dalam situasi nyata. Uji coba ini dilakukan pada subjek yang sesuai dengan sasaran penilaian seperti pada  tujuan penilaian.

Analisis data merupakan langkah terakhir dari pengembangan instrument. Melalui analisis data tersebut dapat diketahui kehandalan dan validitas instrument yang sedang diukur.

Syarat-Syarat Instrumen Penilaian yang Baik

Instrumen pengukuran yang baik adalah istrumen yang didesain secara hati-hati dan dievaluasi secara empirik untuk memastikan keakuratan dan infromasi penggunaannya.[9] Menurut pendapat ini, instrumen yang baik harus melalui dua tahapan. Tahapan pertama adalah tahap desain yang terdiri dari empat criteria, yaitu (1) tujuan didefinisikan secara jelas, (2) materi yang standard an spesifik, (3) prosedur pengadministrasian yang terstandarisasi, dan (4) aturan pensekoran. Tahapan kedua adalah tahap evaluasi yang berupa tahap pengumpulan data dan analisis data yang kemudian data tersebut dipergunakan untuk mengidentifikasi psychometric property, yang ditunjukkan dengan analisis respon terhadap item-item tes. Dua hal penting dalam psychometric propertys adalah reliability dan validity.

Konsep reliabilitas mengandung ide pokok seberapa jauh hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.[10]  Istilah lain dari reliabilitas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi. Instrumen dikatakan reliable jika membuahkan hasil yang akurat dan stabil.

Reliabilitas alat ukur berkiatan erat dengan masalah kesalahan pengukuran (error of measurement), yaitu menunjuk pada seberapa jauh inkonsistensi hasil pengukuran terjadi apabila pengukuran dilakukan ulang pada kelompok subjek yang sama.

Konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas hasil ukur erat berkiatan dengan kesalahan dalam pengambilan sampel (sampling error) yang mengacu pada inkonsistensi hasil ukur apabila pengukuran dilakukan ulang pada kelompok individu  yang berbeda. Tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh angka indeks yang disebut koefisien reliabilitas. Secara teoretik besarnya koefisien berkisar muali 0,0 sampai dengan 1,0.  Koefisien reliabilitas dikatakan tinggi apabila indeksnya 0,9 atau lebih, sedang = 0,8 sampai dengan 0,9 dan rendah di bawah 0,8.[11]

Ada beberapa tipe analisis reliabilitas yang dikenal, yaitu:       (1) test-retest, (2) bentuk Paralel, (3) Konsistensi Internal, (4) Skor Komposit, (5) Skor Perbedaan, dan (6) Hasil Rating (Azwar, 2000: 55-125).

Test-retest (tes ulang) adalah suatu pendekatan untuk mengetahui indeks reliabilitas dengan jalan menyajikan instrumen kepada kelompok subjek yang sama sebanyak dua kali dengan memberikan tenggang waktu tertetnu di antara kedua penyajian tersebut. Skor yang diperoleh dari kedua penyajian tersebut kemudian dikorelasikan dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson untuk memperoleh indeks reliabilitas tes yang diinginkan.

Bentuk Paralel adalah suatu pendekatan untuk mengetahui indeks reliabilitas dengan jalan menyajikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain kepada sekelompok subjek. Dalam pelaksanaannya kedua perangkat tes tersebut bisa digabungkan terlebih dahulu baru kemudian dipisahkan lagi pada waktu melakukan skoring. Skor yang diperoleh dari kedua perangkat tes tersebut kemudian dikorelasikan dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson untuk mendapatkan indeks reliabilitas.

Estimasi reliabilitas konsistensi internal dilakukan dengan cara menyajikan instrumen kepada kelompok individu sebagai subjek sebanyak sekali. Respon yang diperoleh dari pengerjaan instrumen tersebut kemudian diolah dengan teknik pembelahan tes. Di dalam pembalahan tes selalu diupayakan  agar setiap belahan tes homogen sehingga jumlah item, taraf kesukaran, dan isi sebanding dan memenuhi ciri-ciri paralelisme. Banyak formula yang bisa digunakan untuk mengestimasi reliabilitas instrumen dengan teknik pembelahan tes tersebut, yaitu: Formula Spearman Brown, Rulon, Flanagan; Guttman, Mossier, Feldt, Horst, Cronbach’s Alpha, Kuder Richardson, Kristof, dan Analisis Varians.[12]

Reliabilitas skor komposit diberlakukan apabila skor subjek pada tes tidak berasal dari satu sumber saja, melainkan gabungan dari beberapa skor. Skor gabungan tersebut bisa berasal dari komponen atau sub tesnya, atau dari tes yang lain. Setiap bagian tes mempunyai  bobot masing-masing yang ditunjukkan dengan seberapa besar sumbangannya terhadap skor akhir.

Reliabilitas skor perbedaan diberlakukan apabila skor subjek pada suatu tes merupakan selisih antara skor dua komponen yang membentuk tes itu (Azwar, 2000: 103). Pada kasus ini terlebih dahulu dicari indeks reliabilitas untuk setiap komponen serta indeks korelasi diantara kedua komponen tersebut, baru setelah itu bisa dicari indeks reliabilitas skor perbedaan.

Reliabilitas hasil rating diberlakukan pada kasus-kasus dimana skor yang diperoleh merupakan judgment subjektif terhadap aspek atau atribut tertentu yang dilakukan melalui  pengamtan sistematis secara langsung atau tidak langsung (Azwar, 2000: 105). Ada dua cara yang bisa ditempuh untuk mengestimasi reliabilitas hasil rating, yaitu: pertama, dengan memberikan rating ulang pada atribut yang sama, kemudian hasil dari kedua rating tersebut dikorelasikan  dengan teknik rank-order correlation. Kedua, pemberian rating yang dilakukan sekaligus oleh beberapa orang raters yang berbeda dan independen satu dengan yang lain. Cara kedua ini sering banyak dipergunakan  dengan alasan lebih praktis serta menghindari faktor ingatan dari rater.

Validitas mengandung konsep pengertian sejuahmana tes mempu mengukur atribut yang seharusnya diukur.[13] Berdasarkan pengertian ini validitas instrumen berkaitan erat dengan rumusan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Suatu instrumen dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila mampu menjalankan fungsinya sehingga menghasilkan data yang sesuai dengan tujuan dilakukannya pengukuran/penilaian. Di samping itu instrumen dikatakan valid apabila mampu memberikan gambaran perbedaan sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan yang lainnya.

Ada tiga tipe validitas, yaitu (1) content validity (validitas isi)    (2) construct validity (validitas konstruk), dan (3) criterian-related validity (validitas berdasar criteria.[14] Validitas isi adalah tipe validitas yang diestimasi melalui analisis rasional terhadap isi suatu instrumen pengukuran. Validitas isi tercermin dari sejauh mana butir-butir tes mencerminkan keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur. Estimasi validitas ini tidak melalui perhitungan statistik tetapi melalui judgment subjektif dari para ahli. Validitas isi terbagi menjadi dua macam, yaitu validitas muka dan validitas logic. Validitas muka diperoleh apabila suatu instrumen mengukur trait yang relevan, artinya butir-butir tes/skala tersebut tidak menyimpang dari tujuan dilakukannya pengukuran. Validitas logik atau validitas sampling mencakup definisi yang cermat dari domain perilaku yang akan diukur dengan tes/skala dan desain logis dari item/butir instrumen untuk mencakup keseluruhan kawasan domain yang diukur.

Validitas konstruk adalah tipe validitas yang ditunjukkan dengan sejauhmana tes/skala mengungkap suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya.[15] Untuk memperoleh validitas konstruk harus didahului analisis teoretik terhadap atribut yang hendak digali informasinya.

Validitas berdasarkan kriteria adalah validitas yang diperoleh dengan jalan mengkorelasikan skor tes dengan suatu kriteria tertentu. Kriteria yang dimaksudkan di sini adalah variabel perilaku yang akan dipresiksikan atau ukuran lain yang relevan. Berdasarkan pengertian ini prosedur validasi yang dipergunakan ada dua macam yaitu dengan cara mengkorelasikan skor tes/sekala dengan skor tes/sekala lain yang relevan yang datanya bisa diperoleh secara bersamaan, biasa disebut concurrent validity, dan mengkorelasikan skor tes/sekala dengan skor tes/sekala yang diprediksikan pada waktu yang akan datang yang biasa disebut dengan prediktive validity.

Validitas prediktif instrumen merupakan salah satu tipe validitas yang penting dalam suatu sistem seleksi. Suatu instrumen yang baik dapat dengan cermat memprediksikan performansi calon siswa/mahasiswa di kemudian hari. Tinggi rendahnya validitas prediktif instrumen diwujudkan dalam suatu indeks validitas prediktif yang tingginya berkisar antara 0,0 sampai dengan 1,0.

Ada beberapa faktor yang mempengerahui tinggi rendahnya indeks validitas prediktif dalam suatu sistem seleksi. Di antaranya adalah akibat terjadinya (1) restriksi sebaran, dan (2) rendahnya indeks reliabilitas instrumen prediktor maupun kreteriumnya.

Restriksi sebaran adalah terjadinya penyempitan distribusi skor yang diakibatkan oleh semakin sedikitnya  anggota populasi yang diamati. Hal ini disebabkan karena tidak semua peserta yang terlibat dalam suatu sistem seleksi diterima. Akibatnya populasi menjadi lebih homogen (varians skor menjadi kecil). Akibat selanjutnya indeks validitas predektif menjadi rendah.

Tinggi rendahnya indeks validitas prediktif juga dipengaruhi oleh rendahnya indeks kehandalan instrumen baik pada variabel prediktor maupun kriterium. Suatu instrumen sesungguhnya mempunyai indeks validitas yang lebih tinggi dari pada validitas murni yang diperoleh pada keadaan indeks kehandalan salah satu atau kedua instrumen (prediktor dan atau kriterium) rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Sukiman, S. Ag., M. Pd. 2008.Pengembangan sistem Evaluasi PAI. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Prof. H. M. Sukardi, MS., Ph.d. 2009. Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Drs. M. Ngalim Purwanto,M. P. 2008. Prinsip – Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Prof. Dr. Anas Sudijono. 2006. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

eprints.uny.ac.id/874/2/Bab_2.rtf

http://intranet,cps.k12.ibus/Assessment/Ideas and Rubric/Why We Need Reliable and Valid Assessment.html


[1] Nurgiyantoro. Dkk. 2005.

[2] Arikunto. 1977.

[3] Sukiman. 2008.

[4] Arikunto. 1997.

[5] Sudjiono. 1996, Arikunto. 1997.

[6] Sukiman. 2008.

[7] Sukiman.2008.

[8] Azwar. 1997.

[9] Freidenberg, 1995: 11.

[10] Azwar, 2000:4; Sugiyono, 1997:267.

[11] Larson dan Yokom, 1951: 191.

[12] Freidenberg, 1995: 193-204; Allen and Yen, 1970: 78-88; Azwar, 2000: 68-98; Naga, 1992: 134-152.

[13] diambil dari http://intranet,cps.k12.ibus/Assessment/Ideas and Rubric/Why We Need Reliable and Valid Assessment.html.

[14] Allen and Yen, 1979:95; Freidenberg, 1995:220-221.

[15] Allen and Yen, 1979: 108.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s