Tinjauan Filosofis Tentang Metode Pendidikan Islam

TINJAUAN FILOSUFIS TENTANG METODE PENDIDIKAN ISLAM

Makalah  Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam

Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Maragustam Siregar, M. A

 

Disusun oleh :

Nurmawati Restianingsih

10410114

V (PAI E)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Dalam suatu proses pengajaran atau belajar mengajar dalam suatu pendidikan tidak akan pernah lepas dari suatu komponen yang sangat penting dan berpengaruh didalamnya, komponen tersebut yaitu metode. Metode sangatlah berperan besar dalam proses pengajaran, tanpa adanya suatu metode mungkin proses pengajaran bagi seorang siswa atau peserta didik akan terasa menjengkelkan, menjemukan, serta membosankan. Maka dalam pembelajaran perlu adanya metode yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari serta sesuai dengan karakter, sifat, kematangan dan keinginan peserta didik. Akan tetapi perlu di ingat bahwa tidak semua metode bisa diterapkan dalam proses pembelajaran dan tidak ada satupun metode yang tetap.

            Dalam penentuan metode pembelajaran maka perlu adanya pemahaman mengenai prinsip-prinsip metode. Tanpa mengetahui prinsip penggunaan metode maka metode yang digunakan tidak akan bermanfaat bahkan tidak tepat dengan proses pembelajaran. Dalam penentuanya juga harus mempertimbangkan dari segi situasi ataupun kondisi yang sedang terjadi pada saat itu, minat peserta didik serta kemauan dari peserta didik dan pengalaman atau pun pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.

            Suatu metode yang baik adalah metode yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan kondusif. Selain itu juga mampu membangkitkan keinginan peserta didik untuk lebih mengetahui secara mendalam tentang materi pembelajaran tersebut. Dan mampu membuat peserta didik itu gembira dalam proses pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari metode pendidikan islam?
  2. Seperti apa pertimbangan filsafat dalam menggunakan metode?
  3. Apa saja prinsip-prinsip metode pendidikan islam?
  4. Apa saja jenis metode pendidikan islam?
  5. Apa tantangan metode pendidikan islam di era globalisasi?

C. Tujuan

            Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk:

  1. Mengetahui pengertian dari metode pendidikan islam.
  2. Mengetahui pertimbangan filsafat dalam penggunaan metode.
  3. Mengetahui prinsip-prinsip metode pendidikan islam.
  4. Mengetahui jenis metode pendidikan islam.
  5. Mengetahui tantangan metode pendidikan islam di era globalisasi.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Pendidikan Islam

            Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, katametode berasal dari dua suku kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”.[1] Menurut Ahmad Husain al-Liqaniy, metode adalah: “langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu peserta didik merealisasikan tujuan tertentu.”[2] Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian peserta didik. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebanarnya berarti jalan untuk mencapai tujuan. Jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada posisinya sebagai cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu suatu pengetahuan.

            Selanjutnya jika metode itu dikaitkan dengan pendidikan islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi islami. Selain itu, metode dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali dan mengembangkan ajaran islam hingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.[3]

            Dalam bahasa arab, kata metode diungkapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata al-thariqah, manhaj, dan al-wasilah. Al-thariqah berarti jalan, manhaj berarti system, dan al-wasilah berarti peranta atau mediator. Dengan demikian, kata arab yang dekat dengan arti metode adalah al-thariqah. Kata-kata serupa ini sering di jumpai dalam al-Qur’an. Menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqy didalam al-Qur’an kata al-thariqah diulang sebannyak tiga kali, kata ini sering di hubungkan dengan objeknya yang dituju oleh al-thariqah, seperti neraka, sehingga jalan menuju neraka (QS. 4: 9); terkadang dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut,seperti al-thariqah al-mustaqimah, yang diartikan jalan lurus(QS.46: 30);terkadang juga dihubungkan dengan jalan yang ada di tempat tertentu.

            Dari pendekatan kebahasaan tersebut Nampak bahwa metode lebih menunjukkan kepada jalan dalam arti jalan jang bersifat non fisik. Yakni jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu pada cara yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada tujuan yang ditentukan.

B. Pertimbangan Filsafat Dalam Menggunakan Metode

            Pada dasarnya bahwa metode-metode dan cara-cara yang digunakan oleh pendidikan islam dalam proses-proses pengajaran, dakwah, meyakinkan orang lain, petunjuk dan bimbingan itu bermacam-macam, berbeda-beda menurut tujuan pengajaran, menuntut ilmu dan mata pelajaran, menurut kasus dan perkara, menurut tahap perkembangan dan pelajaran, menurut tahap kematangan murid dari segi jasmani, akal, emosi, sosial dan dari segi bakat, kematangan, pengetahuan yang sudah dimiliki, pengalaman-pengalaman, tahap kesadaran, kebudayaan, suasana yang sedang meliputinya dan  menurut tujuan guru dari pengajaran. Metode mengajar ilmu agama dan bahasa berlainan dengan mengajar ilmu-ilmu alam dan seni. Atau dengan kata lain metode mengajar tafsir al-Qur’an, kimia, fisika. Metode mengajar pada pelajaran-pelajaran untuk menikmati dan apresiasi, pelajaran-pelajaran praktis. Dan metode yang sesuai dengan kanak-kanak kecil tidak sesuai dengan orang tua. Metode yang sesuai dengan orang-orang yang baru mulai belajar ilmu, mungkin tidak sesuai dengan orang-orang yang belajar telah berada pada tahap yang tinggi. Metode dan cara yang diikuti oleh ahli-ahli terkenal dan para pendidik, mungkin tidak dapat dipakai oleh guru-guru yang pengalaman mengajarnya terbatas. Begitu juga dapat dikatakan tentang segi-segi perbedaan yang lain yang pengaruhnya besar pada perbedaan metode mengajar.

            Oleh sebab pertimbangan-pertimbangan itulah maka bermacam-macam metode dan cara-cara mengajar serta banyak pula pembagian atau penjelasannya dalam buku-buku pendidikan islam dan pendidikan modern. Sehingga tidak ada satu metode mengajar yang berguna untuk semua tujuan pendidikan, untuk semua ilmu dan mata pelajaran, untuk semua tahap perkembangan dan tahap pengajaran, tahap kematangan dan kecerdasan, untuk semua guru dan pendidik, dan untuk semua keadaan dan suasana yang meliputi proses-proses pengajaran.[4]

C. Prinsip Metode Pendidikan Islam

            Dalam penggunaan metode pendidikan islam perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang mampu memberikan pengarahan dan petunjuk tentang pelaksanaan metode pendidikan tersebut. Dengan prinsip-prinsip ini diharapkan metode pendidikan islam dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien dengan tidak menyimpang dari tujuan semula pendidikan islam. Oleh karena itu seorang pendidik perlu memperhatikan prinsip-prinsip metode pendidikan, sehingga pendidik mampu menerapkan metode yang pas dan cocok sesuai dengan kebutuhannya. Diantara prinsip-prinsip dalam pemilihan metode pendidikan adalah sebagai berikut:[5]

  1. Pentingnya menjaga motivasi pelajar dan kebutuhan, minat, serta keinginan pada proses belajar.

Menggerakkan motivasi dan menjaganya dalam pengalaman-pengalaman yang diajukan kepada pelajar dan juga berbagai aktivitas yang diminta pelajar untuk melakukannya, metode dan cara yang menemaninya, sehingga pelajar ingin belajar lebih aktif. Tetapi kalau pendidikan islam memelihara keinginan murid-muridnya, mereka juga tidak lupa membimbing mereka kearah yang menguatkan kemauan mereka dengan mengingatkannya kepada yang baik bagi mereka.

  1. Pentingnya menjaga tujuan pelajar dan menolongnya mengembangkan tujuan tersebut.

Seorang pelajar yang mempunyai tujuan yang jelas dalam proses belajarnya akan menyukai dan mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan tersebut. Tugas seorang guru adalah menolong muridnya untuk menentukan tujuan dalam proses belajar, dan menjaga tujuan dalam proses pengajaran, dan membimbing murid supaya ia lebih suka pada pelajaran.

  1. Kepastian memelihara tahap kematangan yang dicapai oleh pelajar dan drajat kesediaannya untuk belajar.

Seorang guru menjaga tahap kematangan muridnya dan drajat kesediaannya pada setiap proses belajar dan pada setiap pengalaman yang ingin dipelajarinya. Oleh sebab itu seorang guru berbicara kepada pelajar sesuai dengan akal mereka dan sesuai dengan tahap pengamatan, dan kefahaman mereka. Selain itu seorang guru juga mengajarkan kepada pelajarnya sesuai dengan tahap kematangan jasmani, akal, dan emosi mereka, serta melalui dari apa yang telah mereka ketahui kepada yang belum mereka ketahui.

  1. Perlunya menjaga perbedaan perseorangan di antara pelajar.

Sebagai seorang pendidik perlu menyadari pentingnya menjaga perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara pelajar dalam segala bentuk pertumbuhan dan segi-segi kehidupan mereka pada proses pengajaran dan pada cara menghadapi pelajar tersebut. Seorang pendidik harus menjaga dalam metode dan cara-cara mengajarnya jika seorang guru ingin dapat mencapai apa yang menjadi tujuannya.

  1. Pendidik seharusnya mempersiapkan peluang partisipasi yang praktikal.

Pendidik juga menyadari pentingnya partisipasi praktikal yang berulang-ulang untuk mencapai proses belajar yang sehat dan untuk menanam dalam-dalam serta meneguhkan hasil-hasil proses belajar tersebut. Pengetahuan pendidik muslim terhadap fakta-fakta ini menyebabkan ia berusaha sungguh-sungguh untuk mengaitkan antara kajian teoritikal dan pelaksanaan praktikal agar kedua segi saling melengkapi. Pendidik juga berusaha menggunakan aktivitas muridnya dengan sebaik-baiknya dan membimbing aktivitas ini dalam hal-hal untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

  1. Perlunya memperhatikan kepahaman, mengetahui hubungan, kepaduan dan kelanjutan pengalaman, sifat baru, keaslian dan kebebasan berfikir.

Pendidik-pendidik islam menekankan pentingnya pengetahuan tentang hubungan dan pertalian paralel diantara unsur-unsur pengalaman pengajaran yang satu atau suasana pengajaran yang lain. Mereka juga menekankan pentingnya mengetahui pertalian pada pengalaman-pengalaman pendidikan. Sehingga pengalaman lampau murid bertalian dengan pengalamannya sekarang dan menjadi pendahuluan baginya, dan keduanya menjadi jalan penolong untuk memperoleh pengalaman-pengalaman masa depan. Dengan demikian tercapailah pertalian dan sifat terus-meneus dalam pengalaman pengajaran.

  1. Pentingnya membuat proses pendidikan itu suatu proses yang menggembirakan dan menciptakan kesan yang baik pada diri pelajar.

Sebagaimana pendidikan islam memelihara motivasi, kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, tujuan-tujuan, kesediaan-kesediaan, dan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara muridnya; berusaha menyiapkan peluang partisipasi danpelaksanaan praktis diantara mereka; menjadi tauladan bagi mereka dalam segala hal yang didakwakannya; menaruh perhatian pada faktor-faktor kefahaman, mengetahui hubungan-hubungan, penyusunan tang baik, tepat, baru, keaslian dan pemikiran yang sehat; ia juga memelihara apa yang disebut oleh pendidikan modern hari ini dengan prinsip atau faktor kesan (effect) yang antara lain bermakna bahwa pengalaman mengajar haruslah menggembirakan murid, menarik perhatian dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang diantaranya kebutuhan kepada ketentraman, penghargaan, dan kejayaan.

Al Gazali juga meletakkan prinsip metode belajar pada aspek mental atau sikap, sebagaimana kata beliau “wajib atas para murid untuk membersihkan jiwabya dari kotoran atau kerendahan akhlak dari sifat-sifat yang tercela, karena bersihnya jiwa dan baiknya akhlak menjadi asas bagi kemajuan ilmu yang dituntutnya”.[6]

Sedangkan dari Az Zarnuji dari bukunya Ta’limulmuta’llim pada prinsipnya menyatakan perlunya mengulang, menghafal, memahami, mencatat dan pentingnya diskusi (muzakarah, munazarah, mutharahah).[7]

D. Metode Pendidikan Islam

Banyak sekali metode yang di investasikan oleh ahli-ahli pendidikan. Hal ini bisa terjadi karena pengumpulan metode-metode yang pernah digunakan sejak zaman dahulu hinga zaman modern ini, semakin hari semakin banyak sehubungan dengan ditemukannya bermacam cara dan teori, baik teori belajar maupun teori dari psikologi.

Tetapi dari kalangan dunia islam sendiri telah pula mempergunakan dan mengembangkan metode sendiri baik yang berdasarkan al-Qur’an, hadis atau berdasarkan pendapat para cendikiawan muslim yang kadang bersesuaian dengan metode mengajar yang umum dipakai sekarang dan kadang-kadang tidak. Di antara metode umum yang paling menonjol adalah sebagai berikut:[8]

            1. Metode pengambilan kesimpulan atau induktif

            Metode ini bertujuan untuk membimbing pengajar mengetahui fakta-fakta dan hukum-hukum umum melalui jalan mengambil kesimpulan induksi. Metode ini mulai dengan membahas dari bagian-bagian yang kecil untuk sampai kepada bagian yang umum. Ini digunakan untuk mengambil kesimpulan dan membuat dasar umum yang berlaku kepada bagian-bagian dan contoh-contoh yang diberinya dan yang belum diberinya.

2. Metode Qiyasiah (perbandingan)

                        Metode ini berbeda dengan metode induktif, dimana perpindahan menurut metode ini dari yang umum menuju kepada yang khusus, dari keseluruhan kepada bagian-bagian kecil, dimana disebutkan prinsip umum dahulu kemudian diberi permisalan dan perincian-perincian yang menjelaskannya.

                         Oleh sebab itu, lebih utama pendidik menggabungkan antara keduanya. Dari metode induktif mereka sampai kepada prinsip umum atau fakta umum yang terkandung dalam pelajaran. Kemudian dengan perbandingan itu mereka dapat menjelaskan prinsip umum dan membuktikan kebenarannya, menetapkan dalam ingatan, melatih diri dalam menggunakannya, yaitu melalui contoh-contoh, latihan-latihan percakapan, tulisan dan praktek.

3. Metode Kuliah

                        Adalah metode yang menyatakan bahwa mengajar menyiapkan pelajaran dan kuliahnya, mencatatkan perkara-perkara penting yang ingin diperbincangkan. Pendidik melalui kuliahnya dengan mengutarakan sepintas lalu tentang perkara-perkara penting yang ingin di perbincangkan kemudian menjelaskan dengan terperinci tentang perkara perkara yang disimpulkannya pada permulaan kuliah. Para pelajar mengikutinya dengan mendengar dan mencatat pada buku catatan tentang apa yang difahami dari kuliah itu. Akan tetapi metode ini tidak bisa digunakan untuk mengajar anak kecil yang sukar menaruh perhatian lama dan memahami fikiran-fikiran abstrak tanpa adanya bimbingan.

4. Metode Dialog dan Perbincangan

                        Adalah metode yang berdasar pada dialog, perbincangan melalui tanya jawab untuk sampai pada fakta yang tidak dapat diragukan, dikeritik dan dibantah lagi.

5. Metode Lingkaran (Halaqah)

                        Metode  ini terus dipergunakan pada yayasan pendidikan dalam dunia islam. Dalam pembelajaran para pelajar mengelilingi gurunya dalam setengah bulatan untuk mendengarkan syarahannya. Guru yang masuk halaqah pelajaran harus telah berwudu’ dan berbau harum dan dalam bentuk pakaian yang baik dan khusyu’ kepada Allah, terutama pada pelajaran tafsir dan hadis. Guru memulai pelajaran dengan membaca basmalah, dengan memuji kepada Allah dan mengucap shalawat, kemudian barulah memulai pelajarannya. Bila telah selesai ditutupnya dengan bacaan Al- Fatihah kemudian disuruhnya muridnya untuk membaca pelajaran yang akan datang.

6. Metode Riwayat

                        Metode ini dianggap metode dasar yang digunakan oleh pendidik islam. Hadis, bahasa, dan sastra arab termasuk ilmu-ilmu islam dan segi-segi pemikiran islam yang paling banyak menggunakan riwayat dan bergantung padanya. Kemudian lama kelamaan metode ini tersebar pada ilmu-ilmu islam lain termasik fiqih, ilmu kalam dan lain-lain.

7. Metode Mendengar[9]

                        Metode mendengar ini masih terus dipakai sebagai alat untuk mencapai ilmu pengetahuan. Kerangka-kerangka imliah diriwayatkan dari sumber melalui pendengaran. Dan pendengaran itu tidak meski tepat seperti aslinya sekalipun diangap baik kalau demikian untuk memelihara ilmu itu dari pada lupa.

            8. Metode Membaca

                        Metode ini merupakan alat yang digunakan dalam mengajarkan dan meriwayatkan karya ilmiyah yang biasanya bukan karya guru sendiri. Pada metode ini murid membaca apa yang dihafalnya kepada guru atau orang lain membacanya dan dia mendengarkannya. Yang diharapkan murid dari gurunya dalam metode ini adalah bahwa ia menyetujui atau membantah apa yang didengarnya dan menyatakan bantahan, ulasan dan penerangan-penerangan pada nas itu.

 9. Metode Imla’ (dictation)

                        Metode imla’ ini muncul setelah metode mendengar. Tersirat metode imla’ ini disebabkan oleh tersiratnya kertas dan tulisan. Perbedaan antara metode imla’ dan metode mendengar adalah bahwa, pada metode mendengar guru tidak memperhatikan tulisan murid terhadap apa yang diucapkannya. Ia hanya bercakap sedangkan murid hanya mendengarkan. Tetapi pada imla’ guru mengatur setiap kata yang diucapkannya sedang murid mencatat kata-kata yang didengarnya.

10. Metode Hafalan

                        Orang islam dahulu sangat menghargai ingatan yang kuat dan menganggap pengembangan ingatan untuk menghafal sebagai salah satu tujuan pendidikan. Diantara faktor-faktor yang membantu untuk menarik perhatian umat islam memelihara dan menyebarkan ingatan sebagai salah satu jalan pencapaian adalah kurangnya tulisan pada abad pertama Hijriyah, adanya nas-nash yang mengajak untuk menghafal al-Quran, al-Karim, munculnya ilmu hadis yang memastikan banyak hafalandan timbulnya ilmu-ilmu bahasa yang untuk menguasainya perlu ingatan yang kuat.

11. Metode Pemahaman

                        Selain ulama islam menaruh perhatian pada hafalan dan ingatan mereka tidaklah melalaikan sama sekali pemeliharaan terhadap pemikiran yang dihafalkan dan menjelaskan, menganalisa, dan memahami dengan sebanar-benarnya. Mereka menganggap hafalan itu sebagai jalan, bukan tujuan, sebab kurangnya orang yang pintar membaca dan menulis pada abad permulaan munculnya islam.

 

12. Metode Lawatan Untuk Menuntut Ilmu

Pendidik islam menaruh perhatian besar terhadap lawatan dan kunjungan ilmiah dan dianggapnya sebagai metode yang paling bermanfaat dalam menuntut ilmu, memperoleh pengetahuan, meriwayatkan hadis, sejarah, sya’ir-sya’ir, kesusastraaan dan perbendaharaan kata. Metode ini juga merupakan jalan yang baik untuk menyelidiki ilmiah dan mengadakan hubungan dengan sebanyak mungkin ulama, rawi, dan pembaca-pembaca yang terkenal.[10]

E. Tantangan Metode Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

            Tantangan pendidikan Islam saat ini jauh berbeda dengan tantangan pendidikan Islam sebagaimana yang terdapat pada zaman klasik dan pertengahan. Baik secara internal maupun eksternal tantangan pendidikan Islam di zaman klasik dan pertengahan cukup berat, namun secara psikologis dan ideologis lebih mudah diatasi. Secara internal ummat Islam pada masa masa klasik masih fresh (segar). Masa kehidupan mereka dengan sumber ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan al-Sunnah masih dekat, dan semangat militansi dalam berjuang memajukan Islam juga masih amat kuat. Sedangan secara eksternal, ummat Islam belum menghadapi ancaman yang serius dari negara-negara lain, mengingat keadaan negara-negara lain (Eropa dan Barat) masih belum bangkit dan maju seperti sekarang.

 

Tantangan pendidikan Islam di era globalisasi:

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development ).

Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

            Metode pendidikan islam merupakan sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran islam higga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam penggunaan metode pendidikan islam perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang mampu memberikan pengarahan dan petunjuk tentang pelaksanaan metode pendidikan tersebut. Dengan prinsip-prinsip metode ini diharapkan metode pendidikan islam dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien dengan tidak menyimpang dari tujuan semula pendidikan islam. Oleh karena itu seorang pendidik perlu memperhatikan prinsip-prinsip metode pendidikan, sehingga pendidik mampu menerapkan metode yang pas dan cocok sesuai dengan kebutuhannya.  Akan tetapi perlu diketahui pada dasarnya tidak ada satu metode mengajar yang berguna untuk semua tujuan pendidikan, untuk semua ilmu dan mata pelajaran, untuk semua tahap perkembangan dan tahap pengajaran, tahap kematangan dan kecerdasan, untuk semua guru dan pendidik, dan untuk semua keadaan dan suasana yang meliputi proses-proses pengajaran.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata.  Fisafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 2005.

Maragustam. Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna (Falsafah pendidikan islam). Yogyakarta: Nuha Litera. 2010.

Muhammad Zein. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta. 1985.

Muzayyin Arifin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2009.

Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam.Jakarta: Bulan Bintang. 1975.

Ramayulis dan Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan Islam dan Pemikiran Para Tokoh. Jakarta: Kalam Mulia. 2009.

Arifin. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara. 1996.


[1] H.M. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. (Jakarta: Bumi Aksara 1996), Cet. 1, hal. 61.

[2] Ahmad Husain al-Ligani. Mu jam al-Musthalahat al-kurbawiyah al-Mu’arrafah fi al-Manahij wa Thuruqu al-Tadris. (Mesir: ‘Alam al-Kunto.1996), Cet. 1, hal. 127.

[3] Abuddin Nata. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Hal.  144.

[4] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany.1975. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 557-558.

[5] Muhammad Zein. 1985. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 91-93.

[6] Muzayyin Arifin. 2009. Filsafat pendidikan Islam. Hal. 95.

[7] Busyairi Majidi. Filsafat pendidikan islam. Hal. 12-13.

[8] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany.1975. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 561-579.

[9] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany.1975. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 574.

[10] Muhammad Zein. 1985. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 90.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s